RADAR JOGJA – Puluhan warga binaan pemasyarakatan (WBP) yang menjalani cuti bersyarat (BP) maupun mantan WBP Lapas Narkotika Kelas IIA Jogjakarta yang pernah mendapatkan perlakukan kekerasan menggeruduk Kantor Wilayah Kemenkumham DIJ. Tujuannya untuk meminta proses investigasi berlangsung terbuka. Selain itu juga menuntut agar tak ada lagi kasus kekerasan di dalam lapas tersebut.

Selama aksi, tak ada satupun orasi terlontar. Seluruh WBP maupun mantan WBP memilih aksi diam sebagai wujud unjuk rasa. Mereka juga menutup mulut dengan plester isolasi. Adapula tiga spanduk berukuran besar dan berlembar-lembar kertas bertuliskan nada protes.

“Intinya penyiksaan kekerasan di dalam lapas berhenti dan tidak terulang lagi. Kami yakin pak Kakawnil (Kemenkumham DIJ) dan jajarannya agar bertindak tegas. Harapannya terbuka,” jelas pendamping hukum WBP Lapas Narkotika Pakem Anggara Adiyaka ditemui di depan Kantor Kanwil Kemenkumham DIJ, Rabu (24/11).

Anggara turut menjelaskan pemilihan aksi diam. Berawal dari banyaknya informasi yang dipelintir. Dia menduga pemelintiran informasi untuk mengalihkan isu utama. Termasuk proses investigasi terhadap oknum-oknum pegawai Lapas Narkotika Pakem.

“Aksi diam agar tak dipelintir lagi beritanya. Sehingga diwakilkan dengan tulisan-tulisan,” katanya.

Kepala Bidang Hak Asasi Manusia (HAM) Kanwil Kemenkumham DIJ Purwanto menegaskan jajarannya tetap berkomitmen pada investigasi. Selain itu juga membenahi sistem yang berlaku di Lapas Narkotika Pakem. Untuk menghilangkan budaya kekerasan di dalam lapas.

Pihaknya juga telah melaporkan peristiwa kejadian ke Direktorat Jenderal Pemasyrakatan dan Inspektorat Jenderal Kemenkumham RI. Selain itu juga berkoordinasi dengan Ombudsman Republik Indonesia (ORI) dan Komnas HAM.

“Kami juga langsung menerapkan pemeriksaan dan pendalaman pencarian data dan fakta di Lapas. Langsung melakukan tindakan secara nyata menarik petugas-petugas yang diduga melakukan tindak kekerasan. Kami copot dan gantikan oleh pejabat-pejabat yang mempunyai kapasitas dan kompetensi,” ujarnya.

Terhadap aksi diam, Purwanto tidak mempermasalahkan. Dia justru mengapreasi penyampaian aspirasi para WBP maupun mantan WBP. Seluruhnya akan menjadi bahan evaluasi dan koreksi bagi jajaran Kanwil Kemenkumham Jogjakarta khususnya Lapas Narkotika Pakem.

Dua lembar kertas aspirasi juga diserahkan ke Kanwil Kemenkumham DIJ. Salah satunya bertuliskan Pak Kakanwil Aku Bersamamu. Menurutnya ini adalah dukungan para WBP dan eks WBP terhadap proses investigasi.

“Artinya ini adalah pembinaan yang terintegrasi bahwa tugas kemenkumham dan masyarakat-masyarakat sama-sama berkomitmen yang sama untuk menjadikan lapas-lapas di Jogja lebih manusiawi, lebih baik bermartabat dan membangun manusia yang berakhlak berbudi baik,” katanya. (dwi)

Jogja Raya