RADAR JOGJA – Sebagian bangunan Hotel Swiss Bell di Jalan Jenderal Soedirman keluar dari persil. Itu terlihat di sisi timur lantai 2 sampai dengan lantai 5 selebar sekitar 60 cm x 6 meter. Kemudian sebagian struktur bangunan di lantai basement berada di tanah negara selebar kurang lebih 30 cm x panjang 30 meter.

Data ini sesuai bunyi surat permohonan maaf dan mohon kebijakan Direktur PT Matratama Graha Mulia Tjhin Tjong Giong tertanggal 2 November 2015 kepada Wali Kota Jogja Haryadi Suyuti (HS). Surat minta maaf dan mohon kebijakan itu diajukan setelah permohonan izin mendirikan bangunan (IMB) Hotel Swiss Bell ditolak Dinas Perizinan Kota Jogja. Pertimbangnnya, karena bangunan hotel terindikasi keluar dari persil dan menggunakan tanah negara.

Menanggapi surat tersebut, wali kota melalui surat nomor X-590/095 tertanggal 3 Desember 2015 memberikan maaf. HS juga mengizinkan Tjong Giong sebagai pihak swasta yang membangun Hotel Swiss Bell memanfaatkan tanah negara itu untuk bangunan hotel dan lantai basement. Syaratnya, wali kota meminta ukuran bangunan tidak berubah dan Tjong Giong tidak mengulangi pelanggaran tersebut.

Sebelum digunakan untuk bangunan Hotel Swiss Bell, apa sebenarnya fungsi tanah negara yang persis berada di barat gedung Bank BTN Cabang Jogja itu? “Dulunya itu merupakan lorong menuju SMP Negeri 8 Jogja,” ujar Gatot Saptadi, salah satu ahli waris pemilik rumah di Jalan Soedirman 69 sebelum dibeli Hotel Swiss Bell kepada Radar Jogja Senin (22/11).

Gatot merupakan Sekprov DIJ 2017-2019. Dia salah satu dari 10 anak Brigjen TNI Erry Soeparjan. Orang tua Gatot menempati rumah itu saat menjabat Komandan Korem (Danrem) 072 Pamungkas. Periode jabatannya antara 1967-1972.

Kali pertama bermukim di Jalan Soedirman 69, Gatot masih duduk di kelas dua SD. Dia tinggal di rumah itu hingga dewasa. Ayah Gatot juga pernah menjadi gubernur Kalimantan Timur masa jabatan 1978-1983. Sebelum gubernur, lebih dulu menjabat Pangdam Mulawarman/ Kalimantan.

Selama belasan tahun tinggal di rumah tersebut, Gatot ingat betul dengan tanah negara yang digunakan untuk lorong. Soal bangunan Bank BTN, mantan Penjabat Bupati Sleman ini menyebut telah berdiri cukup lama. Sejak keluarganya pindah dari Riau dan ayahnya bertugas sebagai Danrem 072/ Pamungkas, gedung Bank BTN sudah berdiri.

“Dulu lantai atasnya untuk bioskop Royal. Saya belum pernah nonton karena kursinya banyak tinggi-nya (kutu kasur, Red),” cerita pria yang sekarang bermukim di kawasan Baciro ini.

Di sisi lain, seorang mantan pegawai Dinas Ketertiban Kota Jogja (sekarang Satpol PP) bercerita pada 2001-2004 sempat terjadi sengketa antara Pemkot Jogja dengan seorang guru anak mantan penjaga SMP Negeri 8 Jogja. Guru itu membuat bangunan permanen yang menutup akses sekolah menuju Jalan Soedirman. Kepala SMPN 8 Jogja Drs Mas’udi Asy M.Pd (1999-2008) secara resmi membuat laporan ke Wali Kota Jogja Herry Zudianto dan Poltabes Jogja. Laporannya telah terjadi penyerobotan aset negara.

Menyikapi laporan itu, tim penertiban aset daerah Kota Jogja bertindak. Guru tersebut kemudian diproses secara hukum. “Kami adakan eksekusi bersama Satpol PP dan polisi. Ibaratnya, perjuangan agar lorong jalan itu berfungsi sempat berdarah-darah,” kenangnya.

Kini dia tak habis pikir. Waktu berputar dan zaman berganti. Perjuangan mempertahankan fungsi tanah negara itu berbalik 180 derajat. Sekarang justru dimanfaatkan kepentingan bisnis hotel. Bukan fungsi pelayanan publik seperti 17 tahun silam diperjuangkan jajaran Pemkot Jogja. “Kalau mengingat pengalaman itu sedih juga,” ceritanya.

Kepala Seksi Intelejen Kejari Jogja Edius Manan SH mengaku telah menelusuri sejarah tanah negara yang dimanfaatkan Hotel Swiss Bell. Dia telah mengantongi peta tanah tersebut. “Sejarahnya itu jalan menuju makam,” ceritanya. Makam yang dimaksud Edius itu adalah makam umum Terban. Persis di belakang kios-kios buku Jalan Kahar Muzakir. Di makam itu bersemayam makam pelawak legendaris Basiyo.

Soal kelanjutan pengumpulan bahan keterangan (pulbaket) kasus Hotel Swiss Bell, Edius memastikan prosesnya diambil alih Kejati DIJ. “Penyelidikan dilakukan kejaksaan tinggi. Kami siap support (mendukung, Red) data manakala diperlukan kejati,” ucap jaksa yang pernah menahan seorang bupati di daerah Natuna Kepulauan Riau dan anggota DPRD Jawa Tengah semasa bertugas di Kejari Mungkid, Magelang ini.

Di bagian lain, tanah negara itu telah menjadi bagian dari Hotel Swiss Bell. Dari data IMB Hotel Swiss Bell yang diterbitkan Dinas Perizinan Kota Jogja nomor 0081/GK/2016 0876/01 tanggal 9 Februari 2016 itu seluas 1.755 meter persegi. Kini setelah diubah menjadi hotel luasnya menjadi 10.267,5 meter persegi. Tinggi bangunan 35,7 meter dan jumlah lantai bangunan 10 lantai serta total luas basement 2.090 meter persegi. (kus/laz)

Jogja Raya