RADAR JOGJA – Bupati Sleman Kustini Sri Purnomo menuturkan angka stunting atau gizi buruk di wilayahnya terus menurun. Tercatat angka stunting pada balita sebesar 6.92 persen atau 3.445 anak. Lalu stunting dibawah dua tahun sebesar 6,16 persen atau 1.158 anak. Angka ini lebih rendah dibandingkan 2020 sebesar 7,24 persen atau 4.014 anak.

Hanya saja angka ini juga belum sepenuhnya valid. Penyebabnya adalah penurunan jumlah balita yang dipantau. Dari total 58.729 baru memcapai 35.658 balita atau mencakup 60,72 persen.

“Belum semua data dilakukan verifikasi dan validasi. Penurunan jumlah balita yang dipantau serta belum optimalnya validasi data disebabkan adanya peningkatan kasus Covid-19 dan kebijakan PPKM sehingga banyak posyandu tidak menyelenggarakan kegiatan pemantauan pertumbuhan,” jelasnya ditemui di Grha Sarina Vidi, Jalan Magelang, Sendangadi Mlati Sleman, Selasa (16/11).

Kustini menambahkan dari 86 kalurahan di 17 Kapanewon se-Kabupaten Sleman, prevalensi stunting pada balita semuanya dibawah 20 persen. Presentase ini tergolong pada batas kategori aman atau berada di batas kategori aman. Artinya tidak memiliki masalah kesehatan masyarakat.

Disatu sisi dia tetap mendorong agar pemerintah Kalurahan maupun Kapanewon sigap. Terutama untuk mengatasi dan mengantisipasi kasus stunting di wilayahnya masing-masing. Terbukti dari total 86 Kalurahan, sebanyak 16 wilayah masuk kategori sedang.

“Kategori sedang atau prevalensi 10 hingga 20 persen ada 16 Kalurahan. Kategori rendah dengan prevalensi 2,5 hingga 10 persen ada 67 Kalurahan dan kategori sangat rendah dengan prevalensi¬† dibawah 2,5 persen ada 4 kalurahan,” katanya.

Kustini turut membeberkan penyebab stunting di Kabupaten Sleman. Terdiri dari 1.232 balita tidak memiliki Jaminan Kesehatan, 4 balita tidak ada akses air bersih, 45 balita tidak mempunyai jamban sehat, 42 balita belum imunisasi lengkap.

Adapula 2.009 anggota rumah tangga balita masih merokok, 51 balita pernah mengalami kecacingan , 594 ibu balita sewaktu hamil mengalami Kurang Energi Kronis (KEK). Terakhir sebanyak 199 balita stunting mempunyai penyakit penyerta.

“Stunting adalah kondisi gagal tumbuh pada anak balita akibat kekurangan gizi kronis sehingga anak lebih pendek dibanding usianya. Stunting terjadi sejak dalam kandungan ibu yaitu pada seribu hari pertama kehidupan atau 1.000 HPK,” ujarnya.

Kekurangan gizi pada usia dini, lanjutnya, dapat meningkatkan angka kematian pada bayi dan anak. Intervensi untuk dapat menurunkan prevalensi stunting adalah intervensi pada masa 1000 HPK. Termasuk memerlukan konvergensi lintas program dan lintas sektor serta upaya sinergitas pemerintah di berbagai tingkatan.

Penanganan ini tertuang dalam Perbup Sleman Nomor 27 tahun 2019 tentang Percepatan Penanggulangan Stunting. Wujudnya dalam program inovasi percepatan penanggulangan stunting. Tercatat ada lima program dalam inovasi tersebut.

“Masih dilengkapi dengan delapan tahapan aksi konvergensi percepatan pencegahan stunting. Salah satunya adalah identifikasi sebaran stunting, ketersediaan program dan kendala dalam pelaksanaan integrasi intervensi gizi,” katanya. (Dwi)

Jogja Raya