RADAR JOGJA – Masa-masa sulit akibat pandemi Covid-19 sudah terlewati. Perajin batik ecoprint di Kota Jogja kembali menembus pasar internasional melalui inovasi dan optimismenya. Kebangkitan ekonomi pun diraihnya tiga kali lipat.

WINDA ATIKA IRA PUSPITA, Jogja, Radar Jogja

Perajin batik ecoprint Indra Suryanto mengaku, dalam tiga bulan terakhir omzetnya merangkak naik hingga tiga kali lipat. Dari biasanya didapat Rp 150 juta per bulan, akhir-akhir ini sudah tembus hampir Rp 500 juta. Padahal, kegiatan ekspor sempat terhenti sejak adanya kebijakan pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM).

“Tapi kami bersyukur dengan pandemi. Dari sana justru kita coba kreasi resep-resep baru, yang belum kami coba daun apa selama beberapa bulan kemarin,” kata Indra kepada Radar Jogja Senin (1/11).

Ia menjelaskan produk yang mampu diekspor tembus pasar internasional, yakni kain ecoprint dengan ukuran berbagai macam. Rata-rata ukuran umum seperti jarik batik 2,3×1,15 meter. Tetapi ada pula yang dijual dengan ukuran pendek 1,2×1,15 meter. Demikian juga ukuran hijab dan untuk syal.

Berbagai harga yang dibanderol untuk pasar dalam negeri, mulai Rp 275 ribu sampai Rp 2 juta yang termahal untuk kain sutra. Tetapi untuk harga yang dijual ke luar negeri berkisar 53 dolar atau hampir Rp 800 ribu per lembar. “Nggak nyangka awalnya kita akan sampai seperti ini,” ujarnya.

Awal mula sebelum pandemi Covid-19, pelaku usaha mikro kecil dan mMenengah (UMKM) Eco J itu mampu mengekspor hanya ke Singapura. Gayung bersambut, kemudian getok tular mampu tembus pasar Malaysia, dan baru-baru ini Belanda serta Amerika. Pasar internasional bisa ditembus karena inovasi dan caranya mencari peluang pasar. Diyakini memiliki ilmu yang mumpuni maupun untuk tujuan belajar bersama.

Usahanya tak hanya berhenti di situ saja. Ternyata ia juga membuka pelatihan atau workshop terkait membuat kerajinan ecoprint. Praktis relasi didapat dari peserta-peserta pelatihan yang sasarannya tak hanya pelajar, masyarakat, tetapi hingga turis yang sedang berlibur di Jogja.

Awalnya, door to door paket pelatihan ditawarkan dari hotel satu ke hotel lain di sekitar rumahnya, Karangkajen, Kota Jogja. Kesempatan dan peluang pun berhasil didapat. “Awalnya saya buka pelatihan untuk tamu-tamu hotel. Kita pelayanannya homebase gitu, jadi latihan di rumah ini. Ada paket-paketnya sendiri, tergantung milih apa,” jelasnya.

Adapun paket yang ditawarkan adalah untuk anak-anak sekolah, paket keluarga, dan paket personal bagi siapa pun yang ingin belajar secara langsung. “Salah satu keuntungan dari workshop, ya kita jadi punya relasi,” tandasnya.
Selama pandemi Covid-19 hampir semua UMKM dan UKM terdampak.

Termasuk dirinya yang sudah membangun usaha kerajinan ecoprint sejak 2017 silam. Selama 3-4 bulan awal pandemi hingga Maret 2020 lalu, sama sekali nol pendapatan karena harus berhenti penjualan. Kegiatan ekspor otomatis terhenti. Pelatihan terpaksa dihentikan sementara karena ada pembatasan tertentu larangan pertemuan.

“Cuma di sini kita kesempatan untuk berinovasi lagi, membuat produk baru, karena kita stoknya terbatas. Kita coba pakai daun-daun yang belum pernah kita coba untuk kita produksi,” terangnya.

Menurutnya, pagebluk korona mengajarkan berbagai hal positif. Di antaranya keseriusan dalam berusaha, dan belajar caranya bertahan. Mau tidak mau juga dituntut kreatif dan inovatif agar produknya dilirik oleh konsumen-konsumen luar negeri, terutama sesuai pasarnya.

“Secara harga pasar kami masuk internasional karena penghargaan terhadap seni mereka luar biasa. Kalau di dalam negeri, meski juga masuk tapi harus lebih banyak mengedukasi karena barang ini bukan sembarangan,” tambahnya. (laz)

Jogja Raya