RADAR JOGJA – Sirine tanda bahaya meraung-raung di Kapanewon Kretek, Bantul, pukul 09.25 Rabu (27/10). Gaduh. Beberapa orang berlarian keluar rumah, sebagian berlindung di bawah benda keras. Mereka berupaya menyelamatkan diri dari gempa dahsyat berkekuatan magnitudo 8,8. Sambungan walkie talkie segera ramai laporan kerusakan dan jatuhnya korban. Ternyata, peristiwa ini simulasi.

Plt Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Bantul Agus Yuli Herwanta menuturkan, simulasi menggambarkan situasi gempa bumi diikuti tsunami. Gempa skala magnitudo 8,8 berpusat di selatan Pulau Jawa dengan goncangan gempa dirasakan mencapai VII MMI. “Memicu serangkaian gelombang tsunami di area pantai hingga pemukiman di sekitar pesisir Bantul dan kabupaten tetangga,” bebernya dalam sela pengawasan Rabu (27/10).

Mantan Kabid Pengembangan Destinasi Wisata Dinas Pariwisata Bantul ini menyebut simulasi sangat penting. Guna meminimalkan risiko dampak buruk bencana jika benar terjadi gempa dahsyat di Bumi Projotamansari. “Karena menurut hasil penelitian ahli dari ITB pada 10 Oktober 2020, ada potensi gempa di selatan Pulau Jawa (akibat megathrust, Red),” sebutnya.

Potensi gempa itu dapat memicu gelombang tsunami, sehingga perlu disosialisasikan kepada masyarakat. “Kami harapkan ke depan masyarakat ada kesiapan dan ketangguhan menghadapi tsunami. Sehingga korban dapat kami minimalkan bila bencana itu benar terjadi,” cetusnya.

BPBD turut melibatkan berbagai lembaga dalam simulasi. Di antaranya Muspika Kapanewon Kretek, Sanden, dan Srandakan. Juga melibatkan Kodim Bantul, Polres Bantul, RSUD Panembahan Senopati, PKU Muhammadiyah Bantul, RS Elizabeth, serta Pusdalops dan TRC BPBD.

“Kami juga melibatkan 11 lurah dan ketua FPRB kalurahan,” ujarnya. Mereka berasal dari Parangtritis, Tirtohargo, Donotirto, Tirtomulyo, Tirtosari, Srigading, Gadingharjo, Gadingsari, Murtigading, Trimurti, dan Poncosari. “Dampak tsunami paling parah terprediksi di Poncosari, Gadingsari, Gadingharjo, Srigading, Tirtohargo, dan Parangtritis,” paparnya.

Ditambahkan Kepala Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Bantul Budianta, skenario simulasi turut menyertakan pencegahan pandemi Covid-19. Untuk itu dilibatkan dalam skenario, mitigasi korban gempa yang sedang menjalani isoman. “Jadi bahwa dalam tahap evakuasi korban, kami tetap mengedepankan protokol kesehatan. Karena saat ini situasi sedang pandemi, jadi disesuaikan,” tambahnya

Manajer Pusdalpos BPBD Bantul Aka Luk Luk Firmansyah mengatakan, simulasi terkonsentrasi di dua kapanewon, yaitu Kretek dan Sanden. Sementara pelaku di tingkat kabupaten terposisi di selter Covid-19 PKU Muhammadiyah Bantul. “Kalau di BPBD optimalisasi di Pusdalops, yang menjalankan operasi,” jelasnya.

Hal itu berkaitan dengan rantai peringatan dini tsunami dari BMKG. Pengolah informasi di tingkat Pemkab Bantul menjadi tanggung Pusdalops BPBD Bantul. “Kegiatan ini menguji pemahaman dan alur peringatan dini dari BMKG, otoritas pemerintah daerah, sampai ke masyarakat. Bagaimana memahami cara bertindak saat terjadi gempa dan ketika ada ancaman tsunami,” bebernya. (fat/laz)

Jogja Raya