RADAR JOGJA – Tamagotchi merupakan game populer yang banyak digandrungi lantaran merepresentasikan kehidupan bagaimana merawat binatang dengan baik. Bukan binatang sungguhan. Melainkan binatang peliharaan elektronik yang disuguhkan layaknya gantungan kunci. Bentuknya yang mungil, praktis dibawa ke mana-mana. Umumnya digantungkan pada tas.

Menurut Rektor Universitas Amikom Jogjakarta Prof Dr Suyanto MM, permainan ini memiliki konsep unik. Melatih tanggung jawab dan kedisiplinan dalam memelihara binatang. Bagaimana membuat binatang tersebut merasa senang. Selalu kenyang, tidak kelaparan, termasuk menjaga kesehatannya agar tidak sakit hingga meninggal.

“Game ini sangat cocok bagi orang yang suka dengan binatang tetapi malas membersihkan bagian kotorannya,” ungkap Suyanto terkekeh saat dihubungi Radar Jogja (22/10).

Game ini terbilang sederhana dari segi bentuk dan layar LCD-nya. Bentuknya kecil. Kira-kira segenggam tangan. Di bagian depan terdapat layar kecil sekitar 3×3 cm. Lalu lengkapi tiga sampai lima tombol untuk mengoprasikan game itu. Barulah di bagian belakang terdapat tempat baterai.

Pandangan Suyanto yang juga mengampu mata kuliah perancangan film animasi ini, pembuatan game cukup menarik perhatian. Nilai story-nya tinggi, tak khayal Tamagotchi saat itu laris terjual. Karena pembuatnya mampu menangkap pasar yang dibutuhkan masyarakat.

Secara visual game ini sangat sederhana. Karena menggunakan resolusi rendah. Sehingga gambar grafiknya kurang mendetail dengan tampilan LCD-nya dan karakter warnanya masih momocrome. Suara yang ditimbulkan layaknya suara game umumnya saat itu.

“Game ini oleh Jepang langsung dibranding, diproduksi, dan didistribusikan,” ucap Suyanto. Menurutnya, salah satu keunggulan game ini mampu mewakili kondisi masyarakat Jepang, khususnya wilayah perkotaan yang tidak dapat memelihara binatang karena kesibukan.

Menurutnya, cara memainkan game ini pun simpel dan mudah. Lebih simpel dari gamebot. Tinggal menggeser bagian tombol yang ada lalu memilih menu apa yang dibutuhkan binatang itu. Misalnya saja burung, maka setiap hari wajib memberi makan. Memandikan, mengajaknya bermain. Membelikan aksesoris hingga mengobatinya bila sakit.

Di game ini juga dapat mengatur waktu pukul berapa saja saat-saat melakukan perawatan. Juga dapat menentukan nama, sesuai pilihan nama yang tersedia. Joy, misalnya.

Dikatakan, game ini menjadi game tersukses kala itu. Sebab dalam satu bulan Tamagotchi dapat terjual hingga 6 juta game. Belum termasuk copy-annya. Kesuksesan membranding game itu ditandai banyaknya Tamagotchi yang dijual hingga ke Negeri Paman Sam dan Asia. Sekitar 2014, game ini mulai diangkat dalam permainan playstation dan dibuat secara berlevel. “Sekarang variasinya sudah banyak. Ada yang konsepnya hampir mirip-mirip,” ujarnya.

Tak hanya itu, sekarang PT Badai Jepang juga mengeluarkan Tamagotchi versi baru yang dikemas wearable device. Serupa smartwatch yang bisa dipakai di pergelangan tangan. Selain itu dibuat layar sentuh. Dilengkapi jam digital dan pedometer atau pengukur langkah. Meski LCD-nya masih monocrom dan gambar grafisnya rendah, tetapi juga dilengakapi fitur untuk mendengarkan musik. Warnanya juga menyesuaikan pasar saat ini. (mel/laz)

Jogja Raya