RADAR JOGJA – Gelaran Pekan Olahraga Nasional (PON) Papua XX 2021 memang sudah berakhir pekan lalu. Namun, multievent empat tahunan itu menyimpan sejuta kenangan bagi para atlet. Salah satunya dirasakan taekwondoin Daerah Istimewa Jogjakarta (DIJ) Immanuella Anindita Nugraheni.

Ella, sapaannya senang dan bangga bisa tampil di PON pertamanya. Atlet 23 tahun itu sukses menyabet perunggu di kategori poomsae (jurus) beregu putri. Meski belum berhasil membawa pulang medali emas, Ella sangat bersyukur. “Puji Tuhan perunggu, senang banget apalagi saingannya berat-berat. Tim juga sudah menampilkan yang terbaik, medali apapun menurut saya sudah sangat luar biasa,” kata Ella Kepada Radar Jogja Jumat (22/10).

Lantas, apakah raihan tersebut sudah sesuai target? “Kalau ditanya target sebenarnya penginnya pasti medali emas. Cuma kalau saya pribadi, saya lebih target benar-benar bisa bermain maksimal dan memberikan yang terbaik,” ujar atlet kelahiran 27 Agustus 1998 itu. Sehingga meski hanya berada di podium ketiga, dirinya dan tim cukup puas.

Soal persaingan di PON, Ella menyebut tim Jawa Barat dan Jawa Tengah adalah kompetitor terkuat. Maklum, kedua daerah tersebut memang dihuni oleh atlet-atlet pelatihan nasional alias pelatnas. Bahkan, dua dari tiga atlet Jabar yang turun di nomor poomsae merupakan penghuni Pelatnas.

Yang pasti, capaian tersebut, lanjutnya, buah dari hasil latihan selama ini. Demi memberikan penampilan maksimal di PON, porsi latihan yang diberi tim pelatih tak tanggung-tanggung. Dalam sepakan Ella dkk bisa menghabiskan total 12 kali latihan, pagi dan sore. Baik latihan teknik maupun fisik.

Belum lagi, membagi waktu antara kuliah dan latihan sempat menjadi kendala bagi Ella. Beruntung, seiring berjalannya waktu masalah tersebut bisa teratasi. Nah, di situ lah suka dukanya. “Pelan-pelan bisa ngatur karena sebelumnya sudah komunikasi dengan pelatih, jam latihan harus diluar jam kuliah,” papar bungsu dari lima bersaudara itu.

Prestasi ini ia persembahkan untuk KONI DIJ, sang pelatih, dan orang tua. Juga seluruh masyarakat DIJ yang telah mendukung dan mendoakan sampai sejauh ini.

Di level nasional, PON menjadi event tertinggi yang diikuti. Tapi di kancah internasional, ternyata Mahasiswi Universitas Kristen Duta Wacana (UKDW) Fakultas Kedokteran itu sudah sering mengikuti berbagai kejuaraan. Sebut saja Gyeongju Korea Open International Taekwondo Championship 2014 dan The 15th Japan WATA Open International Taekwondo Championship 2017.

Ella bercerita, awal menekui olahraga bela diri ini sejak 2008 silam. Atau tepatnya saat masih duduk di kelas 3 SD. Orang tuanya lah yang mengenalkan Ella kecil kepada dunia taekwondo. “Dulu buat mengisi waktu kosong tapi makin lama cocok dan sering ikut pertandingam terutama di nomor poomsae. Kebetulan kakak juga ada yang menekuni taekwondo,” kenangnya.

Karier Ella di dunia seni bela diri tidak lepas dari peran sang pelatih, Sanny Harsono yang merupakan mantan atlet taekwondo asal DIJ. Bahkan, putri pasangan Prapto Yudono dan Anna Runga itu begitu mengidolakan sang pelatih. “Beliau inspirasi saya sejak kecil sampai jadi atlet seperti sekarang. Dari kecil saya dilatih sama sabeum Sanny,” ungkapnya. (ard/bah)

Jogja Raya