RADAR JOGJA – Generasi anak yang lahir di era 90-an populer dengan game Tamagotchi. Adalah sebuah konsul permainan jadul berisi makhluk virtual yang harus dirawat oleh pemiliknya. Jika tidak berhasil memelihara, makhluk virtual itu akan mati.

Petualangan game dimulai dari situ. Dalam permainan ini, selain memberi makan, minum dan merawat seekor makhluk virtual, juga bisa jalan-jalan ke suatu tempat bersama dengan Tamagotchi. “Kalau makhluk itu lapar, langsung memberikan kode teriakan,” kata mantan pengguna game Tamagotchi Anjar Arditya kepada Radar Jogja (22/10).

Kode teriakannya seperti apa? Warga Kalurahan Piyaman, Kapanewon Wonosari, Kabupaten Gunungkidul ini mengungkapkan, sesuai dengan hewan virtual yang dipelihara. Jika di awal permainan memilih hewan kucing, saat lapar teriak meong. Begitu juga dengan anjing. “Kode minta makan dengan cara menggonggong,” ucapnya.

Dua jenis binatang ‘alam lain’ itu bagi Anjar cukup favorit untuk dimainkan pada masa kanak-kanak. Dia meyakini, jenis permainan Tamagochi memiliki dampak positif terhadap perkembangan anak. “Kita dilatih memiliki kepekaan sosial dengan sesama makhluk,” ungkapnya.

Tidak hanya itu, pemain juga diajarkan untuk melatih tanggung jawab. Bagaimana tidak, kalau sampai lupa tidak memberi makan, makhluk virtual kesayangannya tewas mengenaskan. Karena permainan hanya bisa dinikmati sendiri, dalam satu kesempatan Anjar meminjamkan kepada temannya. “Jadi kami bisa secara bersama-sama menjaga dan merawat binatang kesayangan,” terangnya.

Ia mulai memainkan game Tamagochi waktu duduk di bangku SMP. Ketika pulang dari sekolah, waktu bermain dimulai. Selain itu, para pemain juga bisa berbagi momen tak terlupakan dengan teman melalui game ini.
“Makhluk ajaib itu bisa beranak pinak jika kita mampu dengan baik merawatnya. Pengalaman seru yang tidak terlupakan,” kata Anjar, sembari menunjukkan foto game Tamatgochi melalui gawai miliknya.

Namun dia sedikit kecewa karena permainan legend mirip gantungan kunci ini dicari-cari tidak ketemu. Walau dia mengaku kalah karena tak bisa merawat dan menyimpan bentuk fisik tamatgochi, tidak dengan pelajaran yang ada di dalamnya. “Saya diajarkan hidup berdampingan dengan sesama makhluk Tuhan dan saling tolong menolong dalam kebaikan,” ungkapnya. (gun/laz)

Jogja Raya