RADAR JOGJA – Salah satu kuliner zaman dulu yang masih diminati masyarakat adalah buntil lumbu. Berbahan daun lumbu atau talas sawah, masakan tradisional ini mampu bertahan dari dulu hingga sekarang.

Pecintanya tak pernah surut meski banyak bersaing dengan makanan baru yang jauh lebih modern. Bedanya, buntil Magelang dengan buntil di tempat lain adalah buntil ini disajikan tanpa siraman santan. Olahan kering.

Buntil lumbu ini bisa dijumpai di Pasar Ngasem. Tepatnya di lapak Sutinah. Ia menjajakan aneka ragam masakan tradisional. Mesti tergolong olahan zaman dulu, namun, buntil buatannya tidak pernah sepi peminat. Mayoritas, yang membeli dari kalangan ibu-ibu.

“Sudah kalah sama makanan zaman sekarang. Anak-anak kurang minat dengan masakan tradisional,” tutur Sutinah sembari melayani pembeli pada Jumat (22/10).

Sutinah mengaku sudah 14 tahun berjualan buntil lumbu. Daun lumbu yang memiliki daun lebar digulung rapi dan dimasukkan dalam bungkus daun pisang. Diberi sambal terbuat dari parutan kelapa, campuran ikan tongkol, dan potongan cabai pedas. Kemudian diikat menggunakan tali rafia. “Kadang pakai tongkol, kadang tidak. Tapi, seringnya buat yang isian kelapa,” tambah Sutinah.

Buntil lumbunya cukup ekonomis. Satu bungkus dibandrol dengan harga Rp 5.000 untuk isian parutan kelapa. Sedangkan isian ikan tongkol Rp 8.000.
Dibantu dengan anaknya, Fitriana, ia biasa membuat buntil lumbu antara 15 hingga 20 bungkus. Terkadang, ia juga melayani pesanan di rumahnya, Dusun Kragilan, Desa Tempak, Kecamatan Candimulyo.

Cara pembuatannya masih sederhana. Menggunakan luweng. Sehingga, benar-benar matang hingga ke dalam. “Masaknya sore, bisa menghabiskan waktu 2 jam,” papar Sutinah.

Sutinah mengatakan, buntil lumbunya bisa awet hingga dua hari. Bisa juga dimasukkan dalam kulkas kemudian dikukus kembali. “Kalau sekarang, yang susah cari lumbunya. Cuacanya panas. Kecuali, kalau di daerah pegunungan,” ucap Sutinah. (cr1/bah)

Jogja Raya