RADAR JOGJA – Pemerintah Kota Jogja (Pemkot Jogja) resmi memberlakukan skema one gate system. Skenario ini untuk mengantisipasi lonjakan wisatawan ke Kota Jogja. Prakteknya dengan melakukan penyisiran wisatawan luar daerah yang belum menerima vaksin Covid-19. Terutama yang datang dengan kendaraan bus pariwisata.

Wakil Wali Kota Jogja Heroe Poerwadi memaparkan setiap bus yang datang wajib masuk ke Terminal Giwangan. Selanjutnya seluruh penumpang dan kru bus akan diperiksa status vaksinnya. Apabila lolos, maka setiap bus mendapatkan stiker khusus. Untuk kemudian menuju 3 tempat parkir bus di Kota Jogja.

“Kami mencoba menerapkan one gate system. Tujuannya untuk memastikan seluruh wisatawan mematuhi ketentuan PPKM. Diantaranya wajib vaksin, tapi intinya dalam rangka mengamankan warga, wisatawan dan pelaku insdustri yang ada di Jogjakarta dari Covid-19,” jelasnya ditemui di Balai Kota Pemkot Jogja, Kamis (21/10).

Stiker, lanjutnya, akan tertempel di badan bus. Sebagai penanda bus telah lolos pemeriksaan persyaratan. Stiker ini juga menjadi penanda lokasi parkir. Stiker warna hijau menuju pakir Abu Bakar Ali, stiker merah ke parkir jalan Senopati Bank Indonesia dan stiker kuning ke parkir Ngabean.

Setiap pengunjung dan kru bus juga wajib mengunduh aplikasi Jogja Smart Service. Untuk menggunakan fitur Peduli Jogja. Fungsinya untuk mengatur rute perjalanan dan alur kunjunganw wisata.

“Menjadi upaya mengatur masuknya para wisatawan terutama ke Malioboro. Di Malioboro dimaksimalkan 2 jam untuk wisatawan dan 3 jam untuk parkir busnya. Jadi para wisatawan termasuk operator kendaraan pariwisata wajib mendownload Jogja Smart Service,” katanya.

Heroe menegaskan tak ada toleransi terhadap pelanggaran. Apabila bus tak masuk Terminal Giwangan maka tak mendapat lokasi parakir. Terlebih fungsi pemeriksaan juga bertujuan mengatur alur kendaraan pariwisata yang akan masuk Kota Jogja.

Terkait sanksi, Heroe mengakui tak ada jerat pidana. Hanya saja penutupan akses lokasi parkir dinilai sudah cukup. Sehingga bus pariwisata dari luar daerah tak bisa menurunkan wisatawan di sembarang tempat.

“Kalau nekat maka tidak bisa dapat tempat parkir karena sudah dibatasi. Kalau ada pengelola parkir yang menerima bus atau kendaraan yang tak lolos screening maka lokasi itu akan kami tutup sementara waktu. Kalau nekat parkir di pinggir jalan akan ditindak langsung,” ujarnya.

Bukan tanpa alasan Pemkot Jogja menerapkan kebijakan ini. Berdasarkan evaluasi, lonjakan wisatawan terjadi sejak 5 pekan terakhir. Angka kunjungan terutama saat akhir pekan melonjak. Catatan terakhir sebanyak 140 bus masuk pada akhir pekan.

Apabila tak diantisipasi maka potensi kemunculan Covid-19 gelombang ketiga semakin nyata. Belum lagi berdampak pada status Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) di Jogjakarta. Dari status PPKM Level 2 bisa kembali ke status PPKM Level 3.

“Kunjungan wisatawan tetap maksimal 25 persen dari kapasitas total. Lalu dengan CHSE dan prokes, dan Peduli Lindung. Agar tetap dalam kendali dan tak muncul kasus atau kalster Covid-19 baru,” katanya. (dwi)

Jogja Raya