RADAR JOGJA – Lembaga Eksekutif Mahasiswa Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada (LEM FIB UGM) menggelar forum audiensi publik secara daring, Kamis (21/10). Isu yang diangkat terkait polemik pemagaran Alun-Alun Utara Jogjakarta. Kaitannya adalah pemanfaatan akses ruang publik bagi masyarakat.

Perwakilan LEM FIB UGM Alicia N. Dani menyampaikan hasil kajiannya. Dia menilai isu ini memiliki nilai urgensi yang mendesak. Terutama adanya anggapan privatisasi alun-alun oleh pihak Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat.

“Audiensi mengenai isu pemagaran Alun-Alun Utara Jogjakarta mencakup banyak isu seperti kaitannya dengan Jogjakarta sebagai Nominasi World Heritage UNESCO, transparansi dana yang dinilai tidak seimbang dengan penanganan pandemi, serta privatisasi Alun-Alun dari pihak keraton,” jelasnya dalam forum daring, Kamis (21/10).

Adanya pemagaran, lanjutnya, menjadi penanda munculnya jarak antara keraton dengan masyarakat. Hal tersebut dianggap tidak sesuai dengan titah Tahta Untuk Rakyat. Jargon ini telah mendarah daging sejak era Sri Sultan Hamengku Buwono IX.

Dia menilai pemagaran telah merusak semangat kebersamaan. Walau hanya simbol, namun terlihat nyata untuk saat ini. Diawali dengan tidak bebasnya masyarakat untuk memanfaatkan Alun-Alun Utara.

“Pemagaran dinilai dapat merusak harmonisasi antara keraton dan masyarakat yang sudah dibangun sejak dahulu,” katanya.

Kepala Bidang Pemeliharaan dan Pengembangan Warisan Budaya Kundha Kabudayan DIJ Rully Andriadi menjelaskan pemagaran sudah melalui kajian dan studi kelayakan. Pertama adalah menumbuhkan kembali nilai-nilai atau fungsi Alun-Alun Utara. Lalu menumbuhkan otentisitas Alun-Alun Utara.

Dalam kesempatan ini dua juga meluruskan anggapan yang beredar. Bahwa pemagaran sebagai upaya pihak Keraton mambatasi beragam kegiatan. Baik atas penyelenggaran sekaten maupun ibadah setiap ada hari raya keagamaan.

“Untuk kegiatan adat ataupun keagamaan menurut saya bisa didiskusikan dengan pihak keraton, karena pada dasarnya adanya pembatasan ini juga bertujuan untuk menjaga kualitas Alun-Alun yang menjadi area lindung dimana terdapat vegetasi termasuk pohon beringin kembar yang merupakan bagian dari konservasi yang harus kita jaga,” ujarnya. (Om7/dwi)

Jogja Raya