RADAR JOGJA – Seiring dengan turunnya level pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) jadi level 2, pengawasan prokes akan lebih berat. Terutama di keramaian, seperti obyek wisata, yang kini sudah diperbolehkan buka.

Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol) PP DIJ memastikan operasi pengawasan protokol kesehatan bakal terus dilakukan meski ada kelonggaran PPKM di DIJ. Kepala Satpol PP DIJ, Noviar Rahmad menjelaskan, pemerintah memberikan kelonggaran pada daerah dengan PPKM level 2 karena dianggap lebih aman dan situasi lebih stabil. Namun menurutnya, kebijakan itu bakal membuat tugas Satpol PP semakin berat. “Tugas semakin berat dengan adanya pelonggaran ini. Kami tetap melakukan pengawasan, jangan sampai terjadi lonjakan kasus di akhir tahun ini. Karena prediksinya kan bakal ada ledakan kasus,” ujarnya Rabu (20/10).

Hingga saat ini, sekitar 400 personel yang tersebar di 33 titik lokasi wisata masih disiagakan. Semua personel Satpol PP maupun Satlinmas Rescue Istimewa akan melakukan pengawasan terkait penegakan disiplin protokol kesehatan terutama soal kerumunan dan kepatuhan memakai masker.
Setiap hari Noviar menyatakan pihaknya juga patroli ke tempat-tempat usaha untuk memastikan penerapan aplikasi PeduliLindungi di tempat publik. “Tiap hari juga mendatangi tempat usaha tempat makan dan kegiatan masyarakat, yang kami awasi penerapan QR Code Peduli Lindungi dan prokesnya,” jelasnya.

Noviar pun mewanti-wanti masyarakat agar tidak terjebak ke dalam euforia yang dapat menimbulkan masalah. Untuk masyarakat Jogja, pesan dia, walaupun level diturunkan prokes tetap harus super ketat. “Kemudian kepada wisatawan harus mematuhi ketentuan yang berlaku di sini terkait prokes, PeduliLindungi, dan ketentuan yang kita keluarkan melalui Ingub,” harapnya.

Sementara itu, Epidemiolog UGM, Bayu Satria, menegaskan, masyarakat tetap perlu waspada dan berdisiplin dalam menerapkan protokol kesehatan karena ancaman penularan virus belum benar-benar hilang. Situasi yang relatif kondusif untuk beraktivitas di tempat umum bisa dinikmati untuk seterusnya hanya jika masyarakat menjalankan peran masing-masing dalam penanganan Covid-19.

Menurut dia, masyarakat perlu diberi pemahaman dan edukasi bahwa kondisi seperti sekarang ini tanggung jawab semuanya. “Kalau ingin seperti ini terus bisa keluar rumah dengan tetap pakai masker ya mau divaksinasi, disiplin pakai masker, mau diperiksa jika jadi kontak erat,” terangnya.

Meski demikian, kasus OTG atau gejala ringan kemungkinan tidak sepenuhnya sesuai dengan gambaran kasus yang tercatat karena masih banyak masyarakat yang takut diperiksa terutama jika mengalami gejala ringan atau OTG. “Di semua kabupaten/kota masih kurang kesadaran masyarakat untuk periksa jika gejala ringan atau habis kontak dengan kasus positif. Tidak jarang masih ditemukan yang menolak di-swab saat pelacakan kontak,” imbuhnya.

Terkait prediksi sejumlah pihak akan terjadinya gelombang peningkatan kasus yang ketiga di Indonesia, hal ini menurutnya mungkin akan terjadi terutama menjelang libur panjang akhir tahun.“Memang mungkin terjadi terutama menjelang libur panjang akhir tahun di mana sangat mungkin terjadi mobilitas cukup besar walau mungkin tidak sama besarnya dengan Idul Fitri,” tandas Bayu. (kur/pra)

Jogja Raya