RADAR JOGJA – Hujan cukup lebat disertai angin kencang melanda hampir merata di sejumlah wilayah di DIJ. Dampak cuaca ekstrem ini pun dirasakan masyarakat kemarin sore (18/10). Mulai banjir di sejumlah ruas jalan, baliho tumbang dan padamnya aliran listrik.

Banjir cukup deras terjadi di sekitar bawah Jembatan Layang Janti. Selain alirannya deras, tinggi banjir juga cukup lumayan hingga selutut orang dewasa. Tak sedikit pengendara sepeda motor yang macet karena terjebak derasnya banjir. Sementara pengendara lain memilih berhenti, menuggu banjir mereda.
Sementara sejumlah baliho juga dilaporkan roboh di sejumlah lokasi. Demikian pula pohon tumbang dan rusaknya spanduk-spanduk dan rontek yang terpasang di pinggi jalan. Untuk listrik padam juga hampir merata di berbagai wilayah dengan durasi lebih dari satu jam.

Masyarakat pun diimbau untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap cuaca ekstrem yang akan terjadi di pertengahan Oktober ini. Sebab, dampak cuaca ekstrem menyebabkan potensi suhu udara meninggi, lalu hujan deras di sertai petir dan juga angin kencang.

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sleman mendorong masyarakat dan relawan meningkatkan mitigasi bencana di wilayah masing-masing. “Antisipasi cuaca ekstrem ini, kami kerjasama dengan RAPI (Radio Antar Pendusuk Indonesia) membuat sensor banjir di Turgo. Tepatnya di Kali Boyong,” ungkap Kepala Seksi Mitigasi Bencana BPBD Sleman Joko Lelono saat dihubungi kemarin (18/10).

Sensor ini dihubungkan dengan repeaternya RAPI. Seandainya ada potensi banjir lahar Merapi, maka secara otomatis akan mengirimkan signal dan langsung dapat dihubungkan dengan repeater RAPI, untuk selanjutnya diumumkan kepada masyarakat.

“Kemarin sensor sudah mulai dibangun dan dilakukan uji coba, ternyata bisa,” ungkapnya. Apabila terjadi potensi banjir lahar, langsung terdeteksi. Terutama aliran Sungai Boyong yang masuk ke wilayah Kota Jogja.

Selain itu pihaknya telah mengaktifkan 20 early wearing sistem (EWS) deteksi banjir maupun longsor di wilayah Merapi dan bukit wilayah Prambanan. Sebagai upaya mitigasi bencana, pihaknya meningkatkan kesiapsiagaan bencana. Yakni, menyiapkan tim kusus personel reaksi cepat tanggap.
Masing-masing kapanewon diminta menggerakkan unit operasional dan akan mengajak unit pelakssana di desa. “Mereka akan berkolaborasi mengantisipasi wilayah masing-masing,” bebernya.

Selanjutnya, Pusat Pengendalian Operasi Penanggulangan Bencana (Pusdalops) Sleman akan memantau kejadian yang akan di-support dari layanan lapor bencana. “BPBD akan kirimkan support, mengirimkan TRC dan alat disiapkan,” sebutnya.

Antisipasi lainnya juga dilakukan. Yaitu, melakukan pemangkasan pohon di Jalan Kabupaten, merapikan ranting pohon yang menjulur ke jalan maupun ke tiang listrik. (mel/laz)

Jogja Raya