RADAR JOGJA – Menjadi seorang pengajar sudah menjadi kesenangan bagi Pradita Nindya Aryandha. Hal itu juga lah yang mendasari perempuan asal Serut, Pengasih, Kulonprogo itu untuk menjadi seorang dosen jurusan manajemen di Universitas PGRI Jogjakarta.

Terhitung sudah sejak dua tahun lalu Nindya resmi menyandang status sebagai dosen, Ia mengaku senang dengan profesi tersebut karena sudah merupakan impiannya sejak masih duduk di bangku perkuliahan S1 Manajemen Sumber Daya Manusia di UGM.

Karena ketertarikan itulah, Nindya kemudian bertekad melanjutkan studinya ke jenjang S2 dengan mengambil jurusan yang sama di Universitas Islam Indoensia (UII). Setelah lulus, pada 25 Januari 2019 kemudian ia mendaftar sebagai dosen di salah satu kampus swasta dan dinyatakan lolos.

Baginya, menjadi seorang dosen di usia yang masih muda memang menjadi tantangan tersendiri. Sebab, ia merasa pengalamannya masih sangat kurang namun harus tetap memberikan ilmu kepada para mahasiswa yang umurnya tak jauh dengan dirinya.

Lebih dari itu, Nindya menyatakan menjadi dosen juga tidak semudah seperti yang kebanyakan orang bayangkan. Karena dosen memiliki beban moral tinggi, tidak sekedar hanya mentransfer ilmu. Namun juga harus dapat mendidik mahasiswanya supaya bisa menguasai sebuah bidang. “Selain itu, menjadi dosen juga ternyata tidak hanya mengajar tetapi juga harus melakukan penelitian dan pengabdian kepada masyarakat. Ini justru tidak lebih mudah dari mengajar,” ujar Nindya kepada Radar Jogja, Jumat (15/10).

Penyandang Duta Bahasa DIJ tahun 2017 itu menambahkan, sukanya menjadi seorang dosen adalah bisa saling bertukar ilmu. Ia memegang prinsip setiap orang adalah guru dan setiap rumah adalah sekolah. Sehinga dengan menjadi dosen, tentu hal tersebut membuat ia merasa bisa belajar dari mana saja tentang kehidupan dan perkembangan ilmu pengetahuan.

Sementara untuk dukanya, Nindya mengaku sering merasa bersalah apabila mahasiswa yang di didiknya mendapat nilai jelek. Karena hal itu membuat ia merasa gagal sebagai seorang pengajar yang seharusnya bisa memberikan pemahaman terhadap apa yang diajarinya. “Bahkan saya pernah sampai menghadap kaprodi dan saya merasa gagal menjadi dosen,” kenangnya.

Selain aktif sebagai pengajar, perempuan kelahiran Kulonprogo itu juga cukup aktif dalam berbagai organisasi dan sering meraih berbagai penghargaan tingkat daerah. Adapun penghargaan yang diraih Nindya, diantaranya pernah menyandang sebagai Duta Bahasa DIJ pada tahun 2017 , Diajeng Favorit Kulonprogo tahun 2015 dan menerima beberapa beasiswa dari universitas. (inu/pra)

Jogja Raya