RADAR JOGJA – Memiliki rumah pribadi sejatinya merupakan sebuah pencapaian. Selain harus merepresentasikan pemilik, hunian yang dapat menunjang aktivitas tentu memiliki nilai tambah.

Radar Jogja bertandang ke rumah pasangan muda, Rygen K Yudha dan Susilowati. Pasangan yang menikah pada tahun 2014 ini mengusung rumah tumbuh dengan konsep hunian unfinished home. Sementara gaya yang diterapkan pada rumah ‘setengah jadi’ itu adalah industrial.

Tren gaya industrial unfinished home sebenarnya mulai menanjak. Ditandai dengan bermunculannya bangunan rumah, kafe, dan bisnis di kota besar seperti Jakarta dan Surabaya. Sementara di Jogja belum banyak yang menerapkannya.
Oleh sebab itu, rumah yang diberi nama Beranda Upangga yang berlokasi di Padukuhan Kembangsari, Kalurahan Srimartani, Piyungan, Bantul, ini terkesan unik. Berbeda dengan rumah-rumah umum di sekitarnya. “Sebenarnya, kami sempat punya cita-cita ingin membangun rumah joglo,” ungkap Rygen saat diwawancarai di rumahnya.

Namun, tanah yang berhasil ditemukan oleh pasangan ini tidak sesuai dengan konsep rumah joglo. Luas sekitar 144 meter persegi dengan ukuran 6 x 24, jadi tanah tidak melebar ke samping, tapi memanjang ke belakang. “Akhirnya kami beralih,” ucap ayah dua anak itu.

Setelah mencari referensi, Rygen menemukan konsep rumah industrial. Desainnya erat dengan gaya mentah yang sering terlihat di pabrik, pergudangan, atau struktur industri lain. Identik dengan warna hitam, abu-abu, dan warna kayu.

“Pas cari referensi, di Jogja masih jarang (yang menggunakan desain industrial unfinished home, Red). Jadi tertarik karena unik,” cetus pria 31 tahun itu.
Rygen melekatkan material besi berwarna hitam sebagai rangka perkakas interior, contohnya pada meja televisi dan kitchen set. Rangka besi hitam juga jadi kusen jendela dan pintu. Aksen ‘setengah jadi’ atau unfinished ditampilkan dengan mengekspos material batu bata merah di beberapa bagian rumah. Seperti fasad roster teras, ruang depan, dan kamar tidur. Selain itu, dinding rumah juga dibiarkan tanpa polesan akhir. Sehingga menampilkan warna semen yang abu-abu gelap.

“Pilihan yang kami pakai untuk menghidupkan dinding yang gelap, adalah warna terang dari jati belanda. Kami juga ingin mendapatkan tekstur ini sih. Kalau kayu biasa, tidak seperti ini,” tunjuknya pada alur urat jati belanda di meja tv.

Selain karena unik, pemilihan konsep pun menunjang aktivitas Rygen sebagai graphic designer. Guna menambah fungsi ruang depan rumahnya, ia memasang mezzanine. Menjadikan ruang dengan luas 4 meter x 5 meter ini multi fungsi.
Setidaknya ada tiga, yaitu ruang tamu sekaligus ruang keluarga pada area terbuka, tempat kerja di bawah tangga mezzanine, dan mezzanine yang dijadikan kamar tidur anak. “Karena aku kerja di industri kreatif, ke depan rumah ini mau aku buat home studio photo juga. Jadi bukan hanya rumah tinggal,” bebernya.

Susi, panggilan Susilowati, turut menambahkan, mengusung konsep industrial unfinished home, membuatnya memilih instalasi listrik yang pipanya dipasang di luar tembok dengan menggunakan pipa hitam, memakai lampu gantung dan lampu sorot LED. Selain itu, digunakan atap transparan pada beberapa bagian rumah. Misalnya saja di kamar tidur, kamar mandi, dan dapur.

Hal ini ampuh memangkas biaya listrik yang harus dibayar. Jendela-jendela yang longgar pun membuat rumah memiliki sirkulasi dan pencahayaan yang baik. “Kami juga memilih tanaman yang menunjang kesehatan. Misalnya itu yang dekat tv untuk mengurangi radiasi,” tunjuknya, mengarah pada tanaman lidah mertua.

Konsep industrial unfinished home yang istimewa ini masih jarang digunakan. Maka, pemilik rumah ini harus berburu untuk memperoleh material pendukung yang cocok. Misalnya saklar dan pipa hitam yang mulai masuk kategori jadul. Sehingga, sulit untuk ditemukan di toko dan mal bangunan.

“Sebenarnya pembangunan rumah ini tidak banyak drama. Cuma sekali, karena rumah unfinished itu butuh ketelatenan dan kerapian, sehingga tidak semua tukang bisa melakukannya. Waktu itu salah seorang tukang ditegur oleh kepala tukang, karena waktu membuat temboknya tidak halus dan presisi garisnya. Setelah itu pekerjanya kabur,” sesalnya.

Perempuan 29 tahun ini mengungkap, pemborong atau mandor yang membantu proses pembangunan rumah sebenarnya selaras dengan pemikirannya dan suami. Tapi, tukang yang dipekerjakan banyak yang tidak tahan mengerjakan konsep rumah dambaan pasangan asal Ponorogo, Jawa Timur, ini. Sebab, tukangnya mungkin belum terbiasa dengan desain rumah industrial unfinished home. “Dari awal sekitar 10 orang, yang bertahan sampai akhir cuma empat,” ungkapnya. (fat/laz)

Jogja Raya