RADAR JOGJA – Pekan Olahraga Nasional (PON) Papua 2021 sudah berakhir kemarin (15/10). Kontingen Daerah Istimewa Jogjakarta (DIJ) gagal memenuhi target di ajang multievent empat tahunan itu. Ya, Kota Gudeg hanya mampu mengumpulkan delapan emas, 12 perak, dan 18 perunggu.

Padahal awalnya KONI DIJ mematok 11 emas, 15 perak, dan 25 perunggu. Dan, hanya finish di posisi ke-15 klasemen akhir. Hasil ini tidak lebih baik dari PON Jawa Barat 2016. Waktu itu DIJ peringkat 10 dengan 16 emas, 15 perak, dan 25 perunggu.

Atas kegegalan itu, Ketua Kontingen PON DIJ Rumpis Agus Sudarko secara langsung meminta maaf kepada masyarakat Jogjakarta. “Kami mohon maaf dan kami siap menerima masukan untuk kedepan. Perbaikan ke depan dan siap menerima kritik, saran, untuk kebaikan kontingen,” kata Rumpis kepada wartawan di Jayapura, kemarin (15/10).

Ia juga menyebut secara keseluruhan pencapaian DIJ di PON hanya sekitar 73 persen. Sedangkan soal perolehan medali emas cuma berada di kisaran 70 sekian persen. “Itu artinya penyimpangannya hampir 30 atau 27 persen. Ini sesatu yang jauh dari harapan karena kalau penyimpangan itu misal 10 persen itu maksimal,” ujarnya.

Rumpis mengatakan, kegagalan DIJ tak lepas dari adanya beberapa cabang olahraga (cabor) yang sejak awal ditarget mendulang medali emas, namun justru meleset. Misalnya saja voli pasir, panahan, balap motor, pencak silat dan sepatu roda. Untuk kelima cabor tersebut Rumpis melihat mental juara para atlet belum terbentuk, padahal secara fisik dan teknik sudah seimbang.

Kendati begitu, ada pula sejumlah cabor yang membuat kejutan. Salah satunya catur. Tim besutan Bima Triardi itu tampil luar biasa. “Catur tidak ditarget tapi bisa meraih dua medali emas dan satu perunggu,” terang Rumpis. Selain catur, ada pula atletik yang ketiga atlet; Indah Lupita Sari, Rahma Anisa, dan Bayu Prasetyo mendapatkan medali di PON pertamanya.

Selain itu, di beberapa cabor secara teknis dan fisik lawan yang dihadapi memang sedikit lebih unggul. Bukan hanya itu, dikatakan DIJ juga banyak dihuni atlet junior dan debutan di PON. “Sudah meningkat sebetulnya tapi masih ada beberapa yang artinya sudah imbang ketika kita tidak bisa memperoleh emas. Itu ya wajar,” paparnya.

Meski sejumlah cabor gagal mencapai target, Rumpis sangat mengapresiasi perjuangan para atlet. Yang pasti, KONI DIJ berterimakasih kepada atlet, pelatih, semua kru yang sudah sama-sama berjuang untuk DIJ. “Perjuangannya tidak sia-sia walaupun secara matematis kami tidak memenuhi target tapi secara psikis sudah berjuang kita berhasil,” tandasnya.

Ketua Umum KONI DIJ Djoko Pekik Irianto menambahkan, pihaknya akan segera melakukan evaluasi untuk mempersiapkan atlet-atlet menuju PON XXI Aceh-Sumut 2024. Untuk evaluasi ini, KONI DIJ bakal mengundang semua Pengurus Daerah (Pengda) dan pelatih cabor yang ambil bagian di PON tahun ini. “Semoga dengan kehadiran semua Pengda dan pelatih, akan didapat masukan dan evaluasi menyeluruh atas hasil yang didapat di PON kali ini sekaligus untuk menyiapkan menuju PON mendatang,” ungkapnya. Rencananya, rapat evaluasi hasil PON dijadwalkan digelar pada 18 Oktober mendatang. (ard/din)

Jogja Raya