RADAR JOGJA – Jogjakarta mengalami hari tanpa bayangan siang hari ini, Rabu (13/10). Penyebabnya adalah matahari tepat berada di atas kepala pada 11:24:47 WIB. Alhasil bayangan manusia maupun benda akan jatuh tepat di bawah objek.

Kepala Stasiun Klimatologi BMKG Reni Kraningtyas memastikan fenomena alam ini normal. Dikenal sebagai kulminasi atau equinox. Merupakan kondisi dimana matahari melintas tegak lurus. Alhasil seluruh bayangan akan hilang untuk sementara waktu.

“Ini adalah fenomena dimana posisi matahari itu berada tertinggi dan berada tegak lurus dari lintang pengamat. Sehingga menyebabkan bayangan kita sendiri atau bayangan benda yang saat itu apa tersinari oleh matahari itu terlihat tegak atau bahkan menghilang,” jelasnya, Rabu (13/10).

Fenomena ini, lanjutnya, merupakan siklus pergerakan bumi terhadap Matahari. Pergerakan sudah terpantau sejak 23 September. Awalnya posisi Matahari berada di dekat garis khatulistiwa. Hingga akhirnya terus bergeser ke arah selatan. Puncak berada di atas wilayah Jogjakarta adalah hari ini (13/10).

Pasca berada di atas Jogjakarta, Matahari masih bergeser ke arag selatan. Hingga akhirnya mencapai puncak pada 22 Desember. Setelahnya Matahari kembali ke utara atau mendekati garis khatulistiwa kembali.

“Diestimasikan dari Oktober sampai Desember posisi Matahari ke selatan terus. Nanti berangsur-angsur matahari akan kembali lagi ke utara,” katanya.

Beragam fenomena alam lainnya menyertai peristiwa kulminasi. Paling terasa adalah meningkatnya suhu udara di sekitar Jogjakarta. Penyebabnya adalah posisi Matahari yang tepat berada di atas langit Jogjakarta.

“Biasanya kita rasakan cuaca cukup terik atau gerah panas ini karena memang sinar matahari atau radiasi matahari yang terpancar ke bumi khususnya untuk wilayah Jogjakarta tepat berada di atas kepala kita,” ujarnya.

Hanya saja Reni memastikan kondisi ini berbeda dengan 2019. Kala itu juga terjadi fenomena yang sama. Imbasnya suhu udara di Jogjakarta kerap menyentuh angka 35 derajat celcius. Sementara untuk kelembaban udara rata-rata dibawah 40 persen.

Untuk tahun ini suhu udara cenderung lebih rendah. Staklim BMKG mencatat suhu tertinggi pada September dan Oktober mencapai 33 derajat celcius. Untuk kelembanan udara terpantau berkisar antara 40 persen hingga 50 persen.

“Penyebabnya karena saat ini pada bulan September beberapa wilayah sudah masuk pancaroba sampai awal Oktober. Lalu pertengahan hingga akhir Oktober ini sudah menjelang masuk musim penghujan. Sehingga tutupan awan terlihat cukup banyak, mengakibatkan pancaran radiasi matahari tidak maksimal,” katanya.

Berdasarkan pendataan Staklim BMKG, suhu udara tertinggi pada 24 dan 25 September. Saat itu suhu udara di wilayah Jogjakarta mencapai 33 derajat celcius. Untuk rata-rata suhu harian berkisar 30 hingga 32 derajat celcius.

“Dalam kondisi normal tanpa equinox suhu rata-rata 31 hingga 32 derajat celcius,” ujarnya.

Munculnya equinox juga berdampak pada kesehatan. Letak Matahari tepat berada diatas kepala membuat paparan radiasi semakin tinggi. Alhasil tubuh rentan mengalami kekurangan cairan atau dehidrasi.

Reni mengimbau agar tetap rutin meminum air mineral. Tujuannya untuk mengantisipasi dehidrasi tubuh. Selain itu juga mengenakan penutup kepala saat beraktivitas di luar ruang.

“Suhu panas berimbas pada kesehatan. Tetap jaga agar tidak dehidrasi saat cuaca cukup terik dan suhu udara tinggi. Tetap menjaga kesehatan, minum air putih yang banyak, minum vitamin agar bisa terhindar dari dehidrasi saat matahari berada di atas kepala,” katanya. (dwi/ila)

Jogja Raya