RADAR JOGJA – Jelang laga Derby Mataram, antara PSIM Jogja melawan Persis Solo dalam Liga 2 group C, Selasa (12/10) mendatang, Wali Kota Solo Gibran Rakabuming Raka bertemu Wali Kota Jogja Haryadi Suyuti (HS), di Balai Kota Jogja, kemarin (7/10). Keduanya bahkan saling bertukar jersey PSIM dan Persis.

“Maknanya ya persahabatan, kalau dua wali kota sudah tukar jersey itu artinya sebuah persahabatan, tanpa meninggalkan kompetisi secara sehat,” kata HS saat ditanya tentang makna saling tukar jersey dengan Gibran. Putera sulung Presiden Joko Widodo itu mendapat jersey PSIM Jogja bernomor 265, sebagai simbol HUT Kota Jogja ke-265 pada 7 Oktober ini. Gibran pun mengamini ucapan HS. “Ya persahabatan,” jawabnya singkat.

Ketika ditanya prediksi skor pertandingan PSIM Jogja-Persis, HS menjawab, “Ya bermainlah sebaik mungkin, karena hasil tidak melupakan proses, kalau proses baik, hasilnya juga baik.”

Terkait rivalitas PSIM dan Persis selama ini Gibran pasang badan untuk menjamin keamanan seluruh peserta yang tergabung dalam group C Liga 2 tersebut, yang akan berlaga di Stadion Mahanan, Solo. Sebagai tuan rumah, lanjut dia, pasti menjamin keamanan seluruh klub, yang tergabung di Grub C.

“Sejauh ini, aman-aman saja kok., itu menjadi tanggung jawab saya,” katanya.
Hanya diakuinya, khusus laga PSIM melawan Persis ini memang butuh keamanan yang lebih ketat. Pasalnya, pertemuan antara PSIM Jogja dengan Persis Solo sarat gengsi yang selalu menimbulkan tensi tinggi di antara kedua suporter. Dia pun mengimbau kedua belah suporter bisa menahan diri. Dengan menonton dari rumah saja. “Semua sedulur kabeh bolo, nggak perlu yang aneh-aneh,” ujarnya.

Pertemuan dua wali kota tersebut juga dalam rangka meningkatkan kualitas perjanjian kerjasama daerah antara Pemkot Surakarta dan Jogja. Ada empat hal yang dikerjasamakan terkait transportasi, pendidikan, kebudayaan, kegiatan pariwisata, dan ekonomi. Hakekatnya, Surakarta dan Jogja merupakan wilayah aglomerasi perkotaan yang tidak terpisahkan. “Kita trus meningkatkan kuantitas dan kualitas kerjasama antara Pemkot Jogja dengan Pemkot Surakarta,” tambah HS

Terlebih, secara konkret sudah ada jalur KRL yang membawa mobilitas warga Jogja ke Solo maupun sebaliknya. Pun banyak pedagang di Jogja berasal dari Solo. Sebaliknya pedagang di Jogja yang melakukan kegiatan bisnis di kota Surakarta. Apalagi ditengah melandainya pandemi dan penurunan level, kegiatan ekonomi perlu didukung. “Sekarang sudah ada KRL dan nanti juga ada jalan tol Solo-Jogja, harus dimanfaatkan sebaik mungkin untuk promosi pariwisata dan kebudayaan,” imbuh Gibran. (wia/pra)

Jogja Raya