RADAR JOGJA – Pemprov DIJ prihatin adanya dua pabrik obat keras ilegal dalam skala besar yang beroperasi di DIJ. Dua pabrik yang bisa memproduksi jutaan obat psikotropika dengan omzet per hari Rp 2 miliar itu ada di Kasihan (Bantul) dan Gamping (Sleman).

Sekprov DIJ Kadarmanta Baskara Aji sendiri mengapresiasi Mabes Polri karena berhasil membongkar adanya produksi obat keras ilegal berskala besar dengan jaringan antarpulau dengan pabrik di wilayah DIJ. Menurutnya, praktik tersebut membahayakan masyarakat.

“Obat itu kan mestinya digunakan untuk kesehatan. Kalau obatnya ilegal, bagaimana kita bisa menjamin bisa menyembuhkan seseorang dari sakit. Yang terjadi adalah penyalahgunaan obat,” terang Aji kepada wartawan kemarin (28/9).

Kendati demikian, Aji bersyukur karena kepolisian berhasil membongkar pabrik obat ilegal itu. Terlebih, pabrik sudah beroperasi cukup lama, sejak 2018. “Entah terlambat atau tidak, dengan temuan ini kita harus bersyukur karena pabrik obat ilegal itu selesai dan tidak diteruskan,” jelasnya.

Adanya pengungkapan kasus ini, harapannya seluruh sindikat pengedar obat terlarang di DIJ maupun di wilayah lain dapat diusut tuntas. “Saya juga yakin kepolisian akan mencari rekam jejak jaringan itu sampai bisa dibersihkan ke akar-akarnya, agar tidak terulang,” katanya.

Sementara itu, kriminolog Universitas Gadjah Mada (UGM) Suprapto menyatakan, bisnis obat-obatan jenis psikotropika memang menggiurkan. Keuntungan yang dihasilkan bisa mencapai 300 persen. “Mereka tetap berani melakukan produksi meski hukumannya berat, karena tahu keuntungannya sangat besar,” katanya.

Suprapto menyatakan, peredaran obat-obatan terlarang dan narkoba termasuk salah satu kejahatan lintas negara. Modus operasinya biasanya dilakukan dengan sembunyi-sembunyi atau punya alibi tertentu. “Jadi memang sulit terdeteksi pihak lain,” tandasnya. (kur/laz)

Jogja Raya