RADAR JOGJA – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bantul merencanakan melakukan lelang jabatan eselon dua pada bulan depan. Setidaknya terdapat delapan kursi kosong yang diperebutkan. “Perkiraan waktu lelang, direncanakan pada Oktober,” ungkap Sekretaris Daerah (Sekda) Bantul Helmi Jamharis usai pelantikan pejabat administrator dan pengawas di Gedung Induk Kompleks Parasamya Bantul Selasa (28/9).

Kendati begitu, Helmi enggan menyebutkan secara pasti jumlah formasi yang kosong bagi pejabat eselon dua. Dengan dalih, Pemkab Bantul tengah memastikannya. “Kami pastikan dulu formasi yang akan dilelang. Tapi saat ini ada delapan formasi yang kosong. Lelangnya kira-kira sama dengan jumlah itu,” ucapnya.

Dijelaskan, panitia seleksi (Pansel) sedang melaksanakan penataan. Penataan tersebut bersifat mutasi pejabat dan menyesuiakan pengisian formasi menurut kebijakan Pemkab Bantul. “Sampai saat ini pansel sedang melaksanakan penataan yang sifatnya mutasi dari beberapa pejabat yang ada,” ujarnya.

Menurutnya, penataan mutasi jabatan dirasa penting karena demi mendukung terwujudnya visi dan misi Kabupaten Bantul. Setelah mutasi dilakukan barulah tampak berapa formasi kosong yang tersedia bagi eselon dua. “Nanti pergeseran ini, berapa yang mau dilaksanakan. Sehingga nanti setelah mutasi dilaksanakan, sudah selesai, kemudian jabatan kosong itu akan kami lelang,” jelasnya.

Sebelumnya, Bupati Bantul Abdul Halim Muslim mengutarakan niatnya untuk melakukan reformasi birokrasi. Tujuannya demi terciptanya birokrasi yang bersih dan akuntabel, birokrasi yang efektif dan efisien, serta birokrasi yang menghadirkan layanan publik yang baik. “Paradigma seperti ini harus dimiliki oleh setiap individu aparatur sipil negara (ASN) Kabupaten Bantul. Kalau enggak bisa, kualat sama Kyai Agnyo Murni,” ucapnya sambil tertawa saat jamasan beberapa waktu lalu.

Dijelaskan, pusaka tersebut merupakan pemberian Sultan Hamengku Buwono X pada 2000. Sebagai perlambang pemerintahan harus dilaksanakan dengan bersih. Agnyo memiliki arti pemerintahan, sementara murni memiliki arti suci atau bersih. “Ini sesuai dengan semangat reformasi birokrasi Bantul, yaitu menghadirkan birokrasi yang bersih dan akuntabel,” tegasnya.(fat/din)

Jogja Raya