RADAR JOGJA – Sekprov Pemprov DIJ, Kadarmanta Baskara Aji meminta Pusat Data dan Informasi Kementerian Kesehatan (Pusdatin Kemenkes) segera menerbitkan QR Code. Baik atas permintaan jajaran pemerintahan di Jogjakarta maupun swasta. Agar penerapan aplikasi Peduli Lindungi lebih efektif.

Aji memaparkan penerapan aplikasi Peduli Lindungi di Jogjakarta sangatlah penting. Guna mengetahui status vaksinasi dan kapasitas kunjungan. Sehingga mobilitas masyarakat dapat lebih terpantau.

“Selama pertemuan ini selalu minta Kemenkes lebih cepat untuk aplikasi. Industri sudah kirimkan, melakukan validasi dan verifikasi tetapi kecepatan untuk menentukan belum memadai,” jelas Kadarmanta Baskara Aji ditemui di Kompleks Kepatihan Pemprov DIJ, Selasa (28/9).

Dari seluruh perkantoran Pemprov DIJ, baru 13 kantor yang telah memiliki QR Code Peduli Lindungi. Artinya belum semua organisasi perangkat daerah memiliki identitas pindai tersebut. Termasuk wilayah perkantoran di Kompleks Kepatihan Pemprov DIJ.

Aji memastikan jajarannya telah mengirimkan permintaan. Pengajuan bersamaan dengan seluruh instansi lainnya. Sayangnya tidak semua dapat diterbitkan secara bersamaan.

“Ada 13 perkantoran yang sudah pasang. Sudah kirim bareng tapi respon QR code belum bareng. Kami ajukan untuk Kepatihan sudah 2 minggu. Mungkin kapasitas karena permintaan seluruh Indonesia cukup banyak,” kata Sekprov Pemprov DIJ, Kadarmanta Baskara Aji.

Aji menjelaskan lingkungan pendidikan di Jogjakarta juga telah mengajukan QR Code. Hanya saja ada perbedaan teknis pemasangan. Terutama untuk jenjang pendidikan Sekolah Dasar (SD).

Pada jenjang SD juga disiapkan skema khusus. Berupa penerapan pindai ke siswa. Sehingga nantinya setiap siswa cukup membawa identitas QR Code dari aplikasi Peduli Lindungi.

“Apakah nanti dibalik petugas sekolah yang scan barcode. Scannya nanti oleh petugas, siswa cukup bawa barcode identitasnya. Tetap kebaca nant kode kuning, hijau, merah atau hitam,” ujar Sekprov Pemprov DIJ, Kadarmanta Baskara Aji.

Aji juga tak menampik adanya kendala regulasi. Berupa penggunaan gawai di sekolah. Diketahui bahwa identitas barcode hanya terpasang di aplikasi Peduli Lindungi.

“(Barcode) Diprint boleh saja, kalau ada kebijakan anak tidak boleh bawa handphone ke sekolah. Bawa handphone kalau khawatir buat mainan di kelas ya bisa print QR Code saja,” kata Sekprov Pemprov DIJ, Kadarmanta Baskara Aji.(dwi/sky)

Jogja Raya