RADAR JOGJA – Dinas Perhubungan DIJ melakukan uji coba pemeriksaan dokumen persyaratan perjalanan pada penumpang bus pariwisata yang menyambangi DIJ. Uji coba dilaksanakan pada akhir pekan ini, tepatnya sejak Sabtu (25/9) hingga Minggu (26/9).

Diketahui, setiap pelaku perjalanan baik di kendaraan umum maupun pariwisata wajib menunjukan sertifikat sudah divaksin. Paling tidak satu dosis. Kepala Dishub DIJ Ni Made Dwipanti Indrayanti menuturkan, uji coba pemeriksaan bus pariwisata dilakukan di bagian timur DIJ.

Menurut pengamatannya, mayoritas wisatawan datang dari wilayah Jawa Timur. “Kami fokuskan di sebelah timur, di parkir Adisutjipto karena dari timur banyak (bus pariwisata). Kemarin banyak yang ke pantai, karena situasinya tidak terkontrol,” jelas Made.

Mulanya uji coba akan diselenggarakan di Terminal Prambanan. Namun karena lahan yang terbatas, Dishub DIJ memutuskan untuk mengganti lokasi ke tempat parkir Bandara Adisutjipto. “Tapi kalau bus pariwisata terlalu besar, akan mengganggu trafik, sehingga kami masukkan ke dalam, di parkir Adisutjipto,” bebernya.

Setelahnya uji coba, Made berharap pemeriksaan itu dapat diperluas di delapan simpul atau seluruh penjuru pintu masuk DIJ. Titik-titik tersebut, sisi timur di lokasi parkir Adisutjipto, Terminal Giwangan, Terminal Dhaksinarga, Terminal Semin, Terminal tipe C di Wates, lalu di Palbapang, Imogiri, dan Terminal Jombor.

Kendaraan yang lolos pemeriksaan akan ditempeli stiker dan diperkenankan melanjutkan perjalanan, sementara yang tidak lolos pemeriksaan akan diminta putar balik. “Kami uji coba bus-bus kami skrining terkait vaksin harus dipenuhi. Setelah diperiksa, bus-bus kami beri stiker,” tambahnya.

Dijelaskan Made, uji coba ini sekaligus untuk mensosialisasikan aturan persyaratan perjalanan di tengah pandemi Covid-19. Warga yang melakukan mobilitas diharapkan telah tervaksin minimal dosis pertama. “Kalau kita di DIJ sendiri kan tahap satu sudah 75 persen. Nah, masalahnya kalau dari luar DIJ itu yang kami khawatir,” katanya.

Malioboro Terus Bergeliat, Sehari Dikunjungi 1.000 Orang

Sementara itu, meski belum dibuka sebagai destinasi wisata dan masih menyandang PPKM Level 3, angka kunjungan ke Malioboro mulai bergeliat. Dalam sehari kunjungan mencapai 1.000 orang, lebih tinggi dibanding saat level 4.

Kepala UPT Pengelolaan Kawasan Cagar Budaya Ekwanto mengatakan, peningkatan kunjungan Malioboro ini terjadi sejak Sabtu (25/9). Dalam satu hari, diperkirakan lebih dari 1.000 wisatawan memadati pusat ekonomi Jogja itu.

“Estimasi kami weekend ini sudah di atas 1.000. Sudah jauh meningkat dibanding PPKM Level 4 lalu. Tadi malam kami lihat ramai sekali,” kata Ekwanto kemarin (26/9).

Ia menjelaskan dengan mulai membeludaknya kunjungan Malioboro, untuk mengatur kunjungan kebijakan waktu berkunjung sekaligus disimulasikan maksimal dua jam. Simulasi mulai digulirkan sejak Jumat lalu (24/9). “Ketika pengunjung sudah lebih dari dua jam berada di kawasan Malioboro, maka petugasnya akan mengirim notifikasi agar yang bersangkutan segera bergeser,” ujarnya.

Praktis seluruh pengunjung yang memasuki kawasan Malioboro saat ini diwajibkan melakukan scan barcode yang terhubung dalam sistem ‘Sowan Jogja’. Melalui skema itu, waktu kunjungan seluruh wisatawan dapat terpantau. “Batas waktu kunjungan dua jam mulai disimulasikan. Jadi simulasi masuk Malioboro dengan barcode Sowan Jogja, itu otomatis terhubung dengan sistem kami,” jelasnya.

Demikian pula kebijakan pemadaman lampu utama di sepanjang kawasan Malioboro setelah pukul 21.00, tampaknya tidak mengurangi animo wisatawan. Menurutnya, warga masyarakat sudah begitu merindukan Malioboro.
“Tetap banyak wisatawan yang datang meski lampu sudah dimatikan. Kemungkinan itu karena kerinduan yang sangat mendalam. Hari ini kan lumayan macet juga. Banyak yang pingin hanya sekadar lewat Malioboro saja,” tandasnya.

Diungkapkan, kantong-kantong parkir di sekitar Malioboro juga belum buka. “Di ABA (Abu Bakar Ali), Senopati dan Ngabean, semuanya belum dioperasikan lagi,” terangnya.

Seluruh personel pun disiagakan secara penuh, mulai Jogoboro, Dishub, dan Satpol PP untuk mengawasi prokes dan cara masuk Malioboro. Ini untuk belajar dari pengalaman agar tidak kecolongan. “Karena walaupun belum dibuka, sudah ramai. Kita mengedukasi pengunjung yang tidak mentaati prokes,” tambahnya. (kur/wia/laz)

Jogja Raya