RADAR JOGJA – Pelaksanaan Pembelajaran Tatap Muka Terbatas (PTMT) yang sudah berlangsung di beberapa sekolah di DIJ, perlu dievaluasi. Pasalnya, ada beberapa sekolah yang ternyata menjadi klaster penularan Covid-19.

Seperti diketahui, sedikitnya ada empat pelajar SDN 1 Panggang, Gunungkidul, yang dilaporkan positif Covid-19. Akibatnya, PTMT di sekolah tersebut terpaksa dihentikan sementara hingga situasi kembali kondusif.

Gubernur DIJ Hamengku Buwono X pun setuju dengan hal itu. Harus ada evaluasi terhadap PTMT. “Ya, otomatis itu (akan ada evaluasi, Red),” ujarnya kemarin (24/9).

Kendati demikian, gubernur masih belum bisa menjelaskan terkait kebijakan Pemprov DIJ selanjutnya setelah ditemui klaster penularan di sekolah tingkat dasar. Pihaknya masih menunggu perkembangan lebih lanjut dari kasus ini.
“Kan mungkin 2-3 kali untuk percobaan ini untuk diswab (di SDN 1 Panggang). Kita lihat dulu perkembangannya. Jangan sampai ada klaster yang merugikan,” jelas HB X.

Hingga saat ini Pemprov DIJ masih mengizinkan penyelenggaraan PTMT bagi sekolah-sekolah yang telah memenuhi persyaratan. “Ya, kita baru percobaan dulu,” beber gubernur.

Dalam Surat Edaran Gubernur Nomor 420/19096 tentang Kebijakan Pendidikan pada Masa PPKM Level 3 untuk Pengendalian Persebaran Covid-19 di Lingkungan Pendidikan di DIJ disampaikan, sekolah yang diperbolehkan melakukan uji coba PTM adalah sekolah yang minimal 80 persen warga sekolahnya telah divaksin. Dengan kata lain, jika mengacu aturan tersebut, SD dianggap belum bisa melaksanakan uji coba PTM karena saat ini vaksinasi anak hanya diperuntukkan bagi pelajar berusia di atas 12 tahun.

Terpisah, Kepala Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga DIJ Didik Wardaya menyatakan, pihaknya akan melakukan koordinasi dengan Dinas Pendidikan di kabupaten dan kota. Sebab, Disdikpora DIJ selama ini memang hanya mengurusi level SMA/SMK/MA saja. “Untuk level SD sampai SMP itu wewenangnya memang di kabupaten/kota,” ujarnya.

Dalam kesempatan itu Didik juga menegaskan sejauh ini masih banyak sekolah yang belum melaksanakan PTMT. Terutama untuk SMA/SMK/MA. Padahal, menurut Didik, sekitar 200-an sekolah di tingkat atas itu sudah siap untuk melaksanakan PTMPT. Terutama dalam pemenuhan syarat 80 persen vaksinasi.
Namun kebanyakan sekolah tersebut masih melaksanakan Penilaian Tengah Semester (PTS). Penilaian itu dilaksanakan secara daring oleh sekolah. “Nanti setelah itu selesai, mereka baru mulai PTMT,” tandasnya.

Tidak Pengaruhi PTMT Sekolah Lain

Munculnya klaster Covid-19 di lingkungan SDN 1 Panggang tidak berdampak terhadap PTMT secara umum. Sebagian lembaga pendidikan masih melaksanakan PTMT dengan mengikuti prosedur ketat pencegahan Covid-19.
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Disdikpora Gunungkidul Ali Ridlo mengatakan, kebijakan resmi penghentian PTMT di SDN 1 Panggang terpaksa diambil pasca munculnya klaster di sekolah itu. Praktis pembelajaran kembali ke metode awal, yakni dialihkan ke daring atau belajar di rumah.

Pihaknya juga belum dapat memastikan kapan kebijakan itu dicabut. “Untuk kegiatan PTMT secara umum tidak terganggu. Sekolah lainnya tidak terganggu dari kejadian ini. Sekolah yang sudah melaksanakan PTMT tetap berjalan dengan mengikuti prosedur ketat pencegahan Covid-19,” ujarnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Gunungkidul Dewi Irawaty mengatakan, penularan di lingkungan sekolah menandakan pelaksanaan PTM belum sepenuhnya siap dilakukan. Kedepan diharapkan persiapan lebih matang yakni, sekolah dalam kondisi benar-benar siap dengan prosedur pencegahan Covid-19. “Perlu ada seleksi sekolah yang bisa memulai PTMT,” kata Dewi.

Sebelumnya, Panewu Panggang Winarno mengatakan, kasus penularan virus korona di SDN Panggang 1 diketahui saat pelaksanaan PTMT. Terdeteksi seorang siswa tertular virus dari teman sepermainan. Pelajar itu telanjur masuk sekolah dan secara pararel menular dan menyebar.

“Mulanya ada warga dinyatakan positif korona dan menularkan ke anak. Si anak bermain dengan salah seorang siswa di SDN 1 Panggang hingga terjadi penularan,” kata Winarno.

Dari temuan kasus, seluruh siswa kelas lima berjumlah 28 anak dan siswa kelas enam berjumlah 25 anak dilakukan tes korona. Termasuk dua guru pengajar di dua kelas juga ikut dites. Hasilnya, empat anak dinyatakan positif Covid-19. Sedangkan hasil tes anak kelas enam belum keluar karena sampel baru diambil Selasa (21/9). (kur/gun/laz)

Jogja Raya