RADAR JOGJA – Bandiman berharap sidang kasus sate sianida dapat digelar tatap muka atau offline. Minimal semua saksi dapat hadir secara langsung di muka persidangan. Agar kasus yang mengakibatkan anak keduanya, Naba Faiz Prasetya meninggal dunia, dapat diungkap secara terang benderang.

Pengemudi ojek online (ojol) ini mengaku tahu sidang perdana kasus sate sianida digelar di Pengadilan Negeri (PN) Bantul, kemarin (16/9). Namun, Bandiman memilih untuk melimpahkan pengawasan sidang kepada kuasa hukumnya, Chandra Siagian. “Saya tidak mengikuti, sepenuhnya sama Pak Chandra,” bebernya saat dihubungi Radar Jogja kemarin (16/9).

Pria 47 tahun ini mendapat informasi sidang perdana tragedi yang dialaminya April lalu itu juga dari Chandra. Berikut informasi persidangan lanjutan yang akan digelar 27 September mendatang dengan agenda pembacaan nota keberatan oleh tim penasihat hukum tersangka Nani Aprilliani Nurjaman. “Tadi Pak Chandra juga bilang itu,” sebutnya.

Selanjutnya, Bandiman menyambut baik usul tim penasihat hukum Nani yang meminta majelis hakim mempertimbangkan digelarnya persidangan secara offline. Ayah dua orang putra ini pun mengaku siap untuk hadir dan memberi kesaksian. “Kalau saya dibutuhkan untuk hadir secara offline, saya siap,” tegasnya.

Oleh sebab itu, Bandiman berharap setidaknya para saksi dapat dihadirkan di muka peradilan. Termasuk Aiptu Y Tomi dan istrinya, Shintaresmi. “Iya kalau minta saya, semua dihadirkan. Agar semua terang benderang. Biar kelihatan jelas semua,” tuturnya.

Sebelumnya, kuasa hukum Nani, Wanda Satria Atmaja meminta kepada majelis hakim agar persidangan dapat digelar offline. Keterbatasan koneksi internet dikhawatirkan membuatnya tidak optimal dalam melakukan pembelaan terhadap kliennya. “Kami kuasa hukum dari Nani mengajukan permohonan sidang secara offline, karena ada pembuktian yang harus kami buktikan terkait penerapan pasal,” cetusnya.

Menurut Wanda, Pasal 340 KUHP yang didakwakan pada Nani tidak tepat. Sebab, kliennya tidak merencanakan pembunuhan terhadap Naba. “Itu nanti akan kami buktikan di persidangan. Pembunuhan berencana menurut hukum adalah pembunuhan dengan sasaran dan target jelas yang mengakibatkan kematian. Tapi di sini tidak. Saudara Tomi tidak meninggal dunia,” jabarnya.

Namun, permintaan sidang digelar offline untuk seluruh pihak yang terkait ditolak oleh majelis hakim. Pertimbangannya, sidang tengah berlangsung pada masa pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM). Sehingga, tersangka tidak dapat dihadirkan secara langsung. Karena peraturan dari Lapas Perempuan II B di Wonosari tempat Nani dititipkan mengatur, binaan harus menjalani karantina setelah berkegiatan di luar. Sehingga dinilai berpotensi mengganggu jalannya proses persidangan.

“Kalau ke luar rutan, yang saya alami di sini, masuk (rutan, Red) lagi isolasi. Karena memang sedang masa PPKM Level 3. Kedua, kita nggak tahu keselamatan terdakwa. Keselamatan terdakwah rentan, perjalanan dari Wonosari wajib dipikirkan,” papar Ketua Majelis Hakim Aminuddin.
Aminuddin juga sempat meminta pertimbangan jaksa penuntut umum (JPU) terkait pemeriksaan di persidangan secara offline. Namun, jawaban dari JPU tidak terdengar. (fat/laz)

Jogja Raya