RADAR JOGJA -Penerapan one gate system yang semula siap disimulasikan, akan dikaji ulang. Salah satu yang diperlukan ialah adanya kerjasama dengan lintas kabupaten. Agar penerapannya bisa dilakukan secara maksimal.

Wakil Wali Kota Jogja, Heroe Poerwadi (HP) mengatakan, penerapan skema one gate stystem tidak bisa hanya dilakukan oleh pemkot saja. Berdasarkan pengalaman di lapangan akhir pekan kemarin, pada Sabtu (11/9) tercatat 43 bus dipaksa putar balik. Dan satu hari berselang, jumlahnya melonjak diangka 135 bus yang harus dihalau, Minggu (12/9). “Di Jogja tidak ada (yang parkir)  tapi mereka berada di luar kota Jogja. Saya ingin tetap berlakukan, cuma ini tidak bisa hanya dilakukan oleh pemkot,” katanya Rabu (15/9).

HP menjelaskan dampak dari bus yang dihalau tersebut yang perlu menjadi perhatian. Sebab, dimungkinkan mereka akan mencari tempat lain untuk menurunkan penumpang atau wisatawan. Malioboro diklaim menjadi tujuan utama mereka khususnya pada sore hingga malam hari. “Kalau yang kita lihat kemarin, mereka tidak ada yang masuk kota Jogja tapi parkirnya di Gedongkuning dan Jalan Magelang. Trus masuk ke kota dengan angkutan online,” ujarnya.

Dengan menurunkan penumpang bus di luar wilayah kota dan masuk menggunakan angkutan lain praktis mereka dengan bebas tanpa melalui skrining identitas vaksin dan hasil yang menyatakan bebas Covid-19. Ini yang menjadi kekhawatiran atas sebaran virus korona terjadi lagi di Jogja. “Secara teknis kita sudah siap, cuma kalau sendirian di kota tidak akan mampu,” tandasnya.

Sejauh ini pemkot sudah menjalin komunikasi dengan kabupaten di wilayah aglomerasi Jogjakarta itu. Pun sedang menjalin komunikasi juga dengan pemprov. Dengan harapan, skema satu pintu ini dapat digulirkan bersama-sama secara serentak. Terlebih, saat ini sudah ada tiga destinasi wisata se-DIJ yang mulai diuji cobakan beroperasi. Sehingga, perlu adanya upaya penanganan kepariwisataan yang seragam melalui one gate system tersebut. “Supaya nanti kita mampu menerima mereka tapi dalam kondisi yang sehat,” jelasnya yang menyebut tujuan utama tak lain untuk melindungi warga lokal.

Dikhawatirkan, tanpa adanya kesinambungan lintas kabupaten dalam hal pariwisata itu akan menambah sebaran kasus. Terlebih, kondisi kasus Covid-19 di kota Jogja sendiri sudah sangat melandai dibandingkan bulan April, Mei, dan Juni. Dengan pertumbuhan kasus harian yang semakin rendah, angka kematian terus menurun dan capaian vaksinasi tinggi. “Kalau dihitung-hitung, sebenarnya level kita sudah sangat bagus. Tapi, karena Kota masuk kawasan aglomerasi, makanya harus mengikuti status level aglomerasinya,” tambah Ketua Harian Satgas Penanganan Covid-19 Kota Jogja.(wia/pra)

Jogja Raya