RADAR JOGJA – Ratusan karya terkumpul dalam aksi Lomba Mural Dibungkam. Terbukti dari banyaknya coretan grafiti maupun mural di akun Instagram milik Gejayan Memanggil @gejayanmemanggil. Dari total tersebut sebanyak 85 karya terpilih dan ditunjuk sebagai juara.

Humas Gejayan Memanggil yang akrab disapa Mimin Muralis menjelaskan ratusan karya terkumpul sejak awal gerakan. Untuk 85 pemenang terbagi ke dalam 14 kategori. Seluruh kategori memiliki kriteria dan representasi yang berbeda.

Beberapa kategori meliputi Paling Memanggil, Paling Nekat, Paling Bisaan, Paling Misterius, Paling Teatrikal, Paling Nyentil, Paling Strategis. Adapula Paling Berwarna, Paling Mengusik, Paling Suka Begadang, Paling Hits, Paling Keras Kepala dan Favorit.

“Paling favorit itu terbaik. Dibuat salah satu akun di Karawang dan mempunyai impact yang besar,” jelas sang Mimin Muralis ditemui di salah satu kafe di Kota Jogja, Rabu (15/9).

Efek dari karya tersebut, lanjutnya, membuat pemerintah gerah. Bahkan Pemerintah Kota justru membuat lomba mural sebagai negosiasi. Walau akhirnya beberapa muralis ada yang ikut untuk merayakan hari jadi Kota Karawang.

Beberapa karya cenderung hadir dalam wujud coretan dinding. Namun tulisan maupun grafis merepresentasikan wujud kritik akan kebijakan. Coretan-coretan inilah yang masuk dalam beberapa kategori nyeleneh seperti Paling Suka Begadang.

“Ada itu yang karyanya mungkin secara seni biasa, tapi dia berani di tempat-tempat seperti itu. Lalu ada yang tiap malam turun ke jalan. Kami tidak menyerukan, tidak menghasut mereka untuk membuat. Tapi kesadaran mereka,” katanya.

Karya paling dengan visual kritis masuk dalam kategori Paling Nyentil. Sementara karya-karya yang termuat di media massa masuk dalam kategori Paling Hits. Untuk karya yang paling sering dihapus masuk dalam kategori Paling Ngusik.

Berjalannya aksi Lomba Mural Dibungkam ini tak sepenuhnya lancar. Beberapa partisipan mengaku sempat didatangi aparat instansi terkait. Bahkan beberapa nama masuk dalam daftar pencarian orang.

“Salah satunya adalah Bamsuck yang karyanya ada di Jembatan Kleringan Kewek. Bamsuck itu paling dicari, karena terus melawan dan vandal juga. Makanya kami masukkan dalam kategori Paling Keras Kepala,” ujarnya.

Pengumuman pemenang Lomba Mural Dibungkam diakui oleh Mimin Murali molor dari ketentuan awal. Pertimbangannya adalah menunggu momen bertepatan dengan Hari Demokrasi Internasional. Tepatnya diperingati setiap 15 September.

Karya-karya terkumpul dari sejumlah daerah di Indonesia. Mayoritas berasal dari Jogjakarta, Jakarta, Bogor, Tangerang, Medan, Denpasar, Banjarmasin hingga Papua. Coretan menghiasi mulai dari tembok kampung hingga jalan protokol.

“Pemenang dapat merchandise berupa sandang dari Gejayan Memanggil. Termasuk dari hasil donasi masyarakat yang bersimpati. Mulai dari produk pertanian, bantuan pangan, voucher belanja hingga produk fashion,” katanya.

Penghargaan juga disematkan di dua dinding di wilayah Kota Jogja. Piagam pertama terpajang di dinding Jembatan Kleringan Kewek. Piagam kedua terpasang di dinding SDN Tukangan Kota Jogja.

Kedua dinding memiliki nilai sejarah bagi para Muralis. Menjadi simbol dan saksi tertorehnya aspirasi warga dan kritik terhadap pemerintah. Beberapa karya sempat tertuang di dinding hingga akhirnya dihapus oleh instansi terkait.

“Kami pilih di dua lokasi itu karena banyak dihapus. Ini hal yang paling sakral. Saat piagam itu diamankan oleh aparat karena mengusik dan jadi musuh itu menandakan isi piagam itu. Wujud emunduran demokrasi kita,” ujarnya. (dwi/sky)

Jogja Raya