RADAR JOGJA – Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) resmi mengizinkan tiga destinasi wisata di DIJ menggelar uji coba pembukaan. Hal itu termaktub dalam Surat Edaran (SE) Nomor SE/8/IL.04.00 DII/2021 tentang panduan penggunaan aplikasi peduli lindungi dan protokol kesehatan pada tempat wisata.

Destinasi wisata yang berkesempatan menggelar uji coba adalah Gembira Loka Zoo di Kota Jogja, Tebing Breksi di Sleman, dan Hutan Pinusari Mangunan di Bantul. Kepala Dinas Pariwisata DIJ Singgih Raharja mengungkapkan, SE diterima hari Sabtu (11/9) lalu dan sejak saat itu pula Dispar DIJ melakukan upaya persiapan pembukaan.

Satu di antara hal yang dipastikan adalah, apakah pengelola objek wisata telah menerima QR Code untuk memanfaatkan aplikasi PeduliLindungi. Aplikasi itu wajib digunakan untuk melakukan skrining terhadap pengunjung, sehingga dapat dipastikan wisatawan yang datang telah tervaksin Covid-19.

Ia menjelaskan, syarat utama uji coba ini adalah destinasi wisata wajib mengantongi sertifikat CHSE atau cleanliness (kebersihan), health (kesehatan), safety (keamanan), dan environment (ramah lingkungan) yang diterbitkan Kemenparekraf. Sebelum ada SE penetapan, ada tiga lokasi wisata yang dikabarkan mendapat izin untuk menggelar uji coba.

Ketiganya adalah Watu Lumbung di Bantul, Taman Pintar di Kota Jogja, serta Candi Ratu Boko di Sleman. Namun untuk Watu Lumbung dan Taman Pintar setelah dievaluasi rupanya belum mengantongi CHSE, sehingga dialihkan ke tempat wisata lainnya.

Untuk Candi Ratu Boko telah memenuhi segala persyaratan. Namun PT TWC sebagai pengelola Candi Prambanan dan Ratu Boko memutuskan untuk memberikan kesempatan kepada destinasi-destinasi wisata lain di DIJ untuk menggelar uji coba.

Kalau Candi Ratu Boko sebenarnya juga sudah masuk kriteria. “Karena Ratu Boko jadi satu dengan Prambanan, kemudian PT TWC memberikan kesempatan untuk destinasi lain untuk berbagi pengalaman melakukan uji coba,” jelasnya.

Singgih melanjutkan, hari ini pihaknya masih melakukan simulasi pembukaan secara internal. Jika berjalan lancar diharapakan tiga destinasi itu dapat diujicobakan untuk menerima wisatawan besok.

“Hari Sabtu kemarin kita lakukan persiapan teknis, hari ini (kemarin, Red) untuk percobaan secara internal. Jadi memastikan flow arus masuk keluar. SDM nanti yang tugas mengawasi dan skaning PeduliLindungi,”  bebernya.

Kepada wisatawan yang akan berkunjung, Singgih meminta agar melakukan reservasi menggunakan aplikasi Visiting Jogja terlebih dahulu. Dengan demikian, harapannya tidak terjadi penumpukan antrean saat membeli tiket masuk.

Terkendala Internet dan Pemahaman Teknologi

Salah satu objek wisata (obwis) yang menjadi lokasi uji coba adalah Hutan Pinus Sari di Mangunan, Dlingo, Bantul. Buruknya koneksi internet jadi kendala utama dalam uji coba ini. Selain itu, kendala lain yang ditemui adalah belum tersedianya alat scan bagi pemegang sertifikat vaksin yang gagap teknologi.

Kepala Bidang Destinasi Dinas Pariwisata (Dinpar) DIJ Kurniawan mengungkap, tiga lokasi uji coba ditunjuk Kemenparekraf. Surat edaran uji coba diterima oleh dinasnya pada Minggu (12/9). “Salah satunya Hutan Pinus Sari, sehingga bisa mengunduh QR code yang dimohonkan. Kemudian masing-masing yang sudah dapat (QR code Peduli Lindungi, Red) diharapkan untuk melakukan uji coba,” bebernya di sela uji coba pembukaan obwis Hutan Pinus Sari kemarin (13/9).

Pada uji coba pertama, peserta simulasi pembukaan dilakukan oleh pengelola obwis itu sendiri. Tujuan lain uji coba untuk memastikan pengelola destinasi sudah tervaksin. Sebab bila pengelola destinasi belum diberi tanda hijau oleh aplikasi Peduli Lindungi, dia tidak diperkenankan melayani wisatawan.

“Tadi kami sudah uji coba ada yang hijau, kuning, dan merah. Ini uji coba internal. Setelah itu, kami harus melaporkan,” paparnya. Selain itu, akan dilaporkan pula kendala yang ditemui saat dilakukannya uji coba. Kendala utama yang ditemui adalah koneksi internet yang buruk.

“Sinyal kadang nyambung atau tidak, solusinya seperti apa itu harus kami fasilitasi. Misal dari Kominfo DIJ menambah atau memperkuat jaringan,” ujarnya.

Buruknya koneksi internet diperparah oleh peserta yang belum mengunduh aplikasi Peduli Lindungi. Sehingga membutuhkan waktu yang lebih lama lagi bagi petugas untuk dapat mempersilahkan masuk ke obwis. “Ada yang belum download aplikasi. Mereka harus kami (tuntun cara, Red) download dan scan. Nah para peserta simulasi yang merupakan pengelola obwis ini selanjutnya yang akan mengedukasi wisatawan,” sebutnya.

Sekretaris Dinpar Bantul Annihayah turut membenarkan kendala utama dalam uji coba adalah minimnya koneksi internet. Untuk itu, dinasnya akan melaporkan temuan ini kepada Kemenparekraf, Dinpar DIJ, dan Bupati Bantul sebagai bahan evaluasi. “Beberapa provider terkendala, kami akan melapor untuk ada penguatan dan dukungan dari Kominfo. Jadi Dinpar tidak berjalan sendiri,” ucapnya.

Selanjutnya diharapkan, uji coba pembukaan obwis Hutan Pinus Sari dapat jadi pembuka gerbang geliat pariwisata di Bumi Projotamansari. Sebab kawasan berkapasitas penuh 7.600 orang ini, dapat menampung kunjungan terverifikasi Peduli Lindungi sebanyak 1.900 wisatawan. “Wisatawan sudah bisa datang ke Hutan Pinus Sari di Mangunan. Monggo berkunjung,” ajaknya.

Masalah lain yang ditemukan adalah tidak tersedianya alat pembaca sertifikat vaksin. Pengelola Obwis Hutan Pinus Sari Anang Suhendri mempersoalkan pengunjung yang tidak memiliki gawai. Padahal pengunjung itu memiliki sertifikat vaksin.

“Sertifikat vaksin, belum ada solusi. Mungkin dari pemerintah, nanti ada alat yang bisa scan sertifikat. Agar pengunjung bisa masuk kalau cuma bawa sertifikat. Karena yang terwadahi hanya scan QR code lewat aplikasi,” ungkapnya. (kur/fat/laz)

Jogja Raya