RADAR JOGJA –Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Mendikbudristek), Nadiem Anwar Makarim mengingatkan bahwa surat keputusan bersama (SKB) 4 Menteri tidak mengatur waktu belajar.

Surat keputusan ini juga tidak mengatur jumlah hari pembelajaran tatap muka (PTM). Aturan terfokus pada kapasitas perkelas, maksimal 18 siswa dan berjarak 1,5 meter antar tempat duduk siswa.

Pernyataan ini guna menjawab kesimpangsiuran informasi di lingkungan pendidikan. Terutama tentang durasi waktu dan jumlah hari PTM. Tersebar bahwa ada batasan waktu dan hari dalam pelaksanaan PTM.

“Hanya mengingatkan saja SKB 4 menteri itu tidak mengatur jam waktu belajar. Tidak mengatur berapa hari dalam seminggu. Ya yang penting perkelas tidak lebih 18 menit,” jelas Nadiem Anwar Makarim ditemui usai meninjau di SD Muhammadiyah Jogokariyan Kota Jogja, Selasa (14/9).

Nadiem mengingatkan agar pengurus sekolah melaksanakan poin-poin dalam SKB 4 Menteri. Langkah ini guna memastikan proses PTM optimal. Terlebih pelaksanaannya masih dalam masa pandemi Covid-19.

Nadiem berharap kebijakan ini mendapatkan dukungan dari pemerintah daerah, Satgas Covid-19 wilayah dan komite sekolah. Menurutnya skema pembelajaran yang tepat adalah PTM. Proses transfer ilmu berlangsung secara optimal dan ideal dari guru ke siswa.

“Jadi harapan saya, Pemda, satgas (Covid-19) lokal dan komite sekolah bisa mendukung. Melaksanakan tatap muka ini dengan prokes yang kuat karena kalau kena klaster lagi ya tutup lagi. Itu yang saya selalu bilang sama guru-guru, murid dan orang tua,” kata Mendikbudristek, Nadiem Anwar Makarim.

Pernyataan ini dikuatkan saat dia meninjau SD Muhammadiyah Jogokariyan. Sekolah ini tengah menjalani uji coba PTM. Secara psikis, para siswa lebih nyaman dengan skema tersebut.

Nadiem menilai pembelajaran jarak jauh (PJJ) atau daring sudah tidak ideal. Kemendikbudristek, lanjutnya, tengah fokus pada pelaksanaan PTM. Targetnya secepat mungkin, namun tetap beracuan pada kondisi sebaran kasus di wilayah.

“Fokus Kemendikbudristek, anak-anak kembali ke sekolah secepat mungkin tapi seaman mungkin. Kembalikan roh pendidikan kita yang selama ini bisabdibilang hilang selama PJJ,” ujar Nadiem Anwar Makarim.

Selama kunjungan, Nadiem menyempatkan diri bertanya kepada para siswa SD Muhammadiyah Jogokariyan. Para siswa mengaku antusias mengikuti PTM. Terlebih hampir 2 tahun pembelajaran berlangsung secara daring.

Menurutnya, belajar tak hanya berbicara transfer ilmu formal. Pertemuan dengan teman dan guru juga sangatlah penting. Terutama untuk pembentukan dan pendidikan karakter setiap siswa.

“Senyumnya anak-anak SD Muhammadiyah. Ini katanya hari pertama mereka kembali tatap muka. Alhamdulillah mata mereka bersinar-sinar lagi ya. Saya melihat guru-gurunya matanya bersinar-sinar juga. Udah jelas guru-gurunya udah kangen adik-adik di dalam kelas,” kata Mendikbudristek, Nadiem Anwar Makarim.

Kepala SMP Muhammadiyah Jogokariyan, Fika Widiana Kusprastiwi menuturkan persiapan PTM telah matang. Setidaknya sekolahnya telah memenuhi persyaratan dari Muhammadiyah Covid-19 Command Center (MCCC). Setidaknya ada sembilan sekolah yang akan melalui uji coba tatap muka.

Fika memastikan PTM tetap menunggu perijinan. Terutama dari para orangtua siswa. Untuk sementara pihaknya masih menjalani uji coba terbatas. Tujuannya untuk mendapatkan skema PTM yang ideal.

“Belum berani PTM jika belum dapat ijin, terutama dari orangtua. Sarana prasarana kami penuhi dulu. Sementara kelas 4, 5 dan 6. Skema paralel dibagi 3 waktu dan 10 siswa perkelas. Untuk kelas 1 sampai 3 mengkondisikan karena lebih sulit,” ujar Fika Widiana Kusprastiwi. (dwi/sky)

Jogja Raya