RADAR JOGJA – Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) menyabet tiga penghargaan sekaligus dari Perpustakaan Nasional RI. Ketiga penghargaan berupa Nugra Jasa Dharma Pustakaloka pada acara Gemilang Perpustakaan Nasional. Penghargaan pertama adalah Lifetime Achievement yang diterima oleh Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X secara virtual.

Penghargaan kedua adalah Nilai Tingkat Kegemaran Membaca Masyarakat tertinggi se-Indonesia Tahun 2020. Untuk penghargaan ketiga Juara II pada Lomba Bertutur Siswa-Siswi SD/MI Tingkat Nasional Tahun 2021. Diterima oleh Binar Mutiara Yahya dari SDN Ungaran 1 Kota Jogja.

“Ini adalah sebuah amanah bagi saya untuk senantiasa meningkatkan budaya baca warga DIY. Mari bersama mewujudkan masyarakat sejahtera dengan budaya baca,” jelas Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X (HB X) usai menerima penghargaan secara virtual di Kompleks Kantor Kepatihan Pemda DIY, Selasa (14/9).

HB bercerita tentang filosofi membaca. Dalam bahasa Jawa krama inggil membaca dikenal istilah maos. Filosofi yang ditanamkan adalah maos tumuju maos.

Filosofi tersebut dapat dipahami sebagai upaya membentuk insan manusia. Tidak hanya cendekian tapi peka terhadap lingkungan. Tentunya berdasarkan pada budi pekerti dan kearifan lokal yang melingkupinya.

“Jadi membaca itu tidak hanya sekedar literasi lalu mengeja kata dan kalimat. Tapi bagaimana menyerap makna-maknanya untuk kemudian diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari,” katanya.

HB X mengapresiasi peran perpustakaan di Yogyakarta. Mampu mewujudkan tatanan masyarakat yang peka terhadap literasi. Perpusatakaan juga dapat menjadi pusat kegiatan masyarakat yang inklusif. Terlebih dengan adanya dukungan pustakawan sebagai penggawanya.

“Apa yang kami lakukan selama ini dalam upaya pengembangan perpustakan di daerah kami dengan melakukan pembinaan dan memberikan bantuan bagi pustakawan dan perpustaakaan. Baik yang ada di kampus di OPD maupun perpustakaan yang ada di desa,” ujarnya.

Upaya digitalisasi perpustakaan juga terus berlangsung. Langkah ini guna mendekatkan literasi dengan masyarakat. Terutama untuk mempermudah akses dalam kebutuhan membaca.

Konsep ini telah ditanamkan ke sejumlah manuskrip milik Keraton. Sehingga nilai-nilai sejarah masa lalu tetap lestari. Terutama beragam peninggalan kearifan lokal dalam bidang seni dan budaya.

“Kami di keraton terbuka untuk masyarakat maupun untuk para mahasiswa untuk riset maupun studi. Semua itu bisa dibantu juga untuk bisa membaca huruf Jawa yang mungkin mahasiswa itu tidak mampu membacanya. Kami menyediakan tenaga penerjemah,” katanya.

Kepala Perpustakaan Nasional RI Muhammad Syarif Bando menuturkan penghargaan merupakan wujud apresiasi terhadap pelestari literasi. Tertuang dalam Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 43 Tahun 2007 tentang Perpustakaan. Tertuang dalam Pasal 51.

Dalam aturan tersebut dijelaskan bahwa dalam rangka pembinaan dan pengembangan perpustakaan dan kegemaran membaca, Perpusnas RI wajib memberikan penghargaan. Baik kepada masyarakat baik perseorangan, kelompok atau lembaga. Khususnya yang berhasil meningkatkan kegemaran membaca.

“Terutama melalui pendayagunaan perpustakaan. Sehingga Yogya sangat layak menerima penghargaan pada acara Gemilang Perpustakaan Nasional,” ujarnya dalam keterangan tertulis.(*/dwi/sky)

Jogja Raya