RADAR JOGJA – Puluhan keris pusaka atau tosan aji ditanggalkan dari wirangka dan pegangannya. Yang tersisa hanya bilahnya. Kemudian keris-keris itu diolesi minyak, setelah dilakukan serangkaian prosesi ritual. Yakni, doa yang dilaksanakan secara simbolik dengan kidungan dan wayang ruwat di Omah Dhuwung, Sembungan, Tanjung, Wukirsari, Cangkringan, Senin (6/9).

Taufik Hermawan, penjamas atau pemasuh pusaka menjelaskan, masuh pusaka sama halnya memberikan energi daya melalui doa. Mengembalikan spiritual konsep awal tosan aji diciptakan. Prosesi dilaksanakan dengan simbolik dan filosofis. Menggunakan uba rampe untuk sesajennya. “Sesajian ini wujud dari doa. Merupakan pengharapan,” ungkap Taufik di sela acara Senin (6/9).

Sesajian beragam. Ada bunga-bungaan, tumpeng robyong, among-among, pisang sanggan ketan, telor, jejenangan dan lainnya. Bagian ini merupakan simbol berbagi.

JAMAS TOSAN AJI: . Kegiatan bertajuk “Hamusuh Tosan Aji, Landheping Pusaka Ambuka Jatidhiri” itu membersihkan lebih dari 50 keris dari anggota komunitas dan masyarakat umum.(GUNTUR AGA TIRTANA/RADAR JOGJA)

Masuh pusaka diawali dengan doa kidungan berjudul bale anyar. Menyimbolkan sesuatu yang baru. Nah, energi pada tosan aji muncul dari doa. “Ada sekitar 50-70-an tosan aji. Berusia era baru, sekitar 20 tahunan dan tertua 500 tahun,” ungkapnya.

Adapun urut-urutan masuh pusaka, terdiri atas tiga elemen. Air, angin, dan api. Lebih lanjut dijelaskan, elemen air didapat dari pengolesan minyak. Kemudian tosan aji diangin-anginkan, dan terakhir dilakukan pengasapan di atas menyan. Barulah pusaka dikembalikan ke wirangkanya masing-masing. Masuh pusaka, merawat pusaka baik besi maupun pamornya. Untuk perawatan wirangkanya cukup dilap menggunakan air.

Kegiatan ini diselenggarakan Komunitas Litban Lar Gangsir DIJ. Pesertanya dari berbagi wilayah, termasuk luar DIJ. Ketua Penyelenggara Hedy Haryanto menambahkan, kegiatan ini sebagai wujud nguri-uri budaya, sekaligus edukasi kepada kawula muda, agar mengenal tosan aji. Mengenal keris, warisan budaya leluhur.

“Kegiatan ini dilakukan rutin tiap tahun, dalam tiga tahun terakhir. Anggotanya 50 orang,” katanya. Disebutkan, prosesi hamasuh (jamasan) diawali dengan ritual wayang dengan lakon Semar Anabda Sungsang Bawana Balik oleh dalang Tedjo Bagus Sunaryo. (mel/laz)

Jogja Raya