RADAR JOGJA – Warga Padukuhan Sanggrahan, Tirtoadi, Mlati, Sleman, yang terdampak proyek tol Jogja-Bawen, mulai membongkar rumah. Ada warga yang sudah mengangkut material, dari genting, usuk, hingga perabotan rumah. Mereka membawa barang tak jauh dari lokasi di hunian baru.

“Lokasi ini terdampak tol Jogja-Bawen. Setelah ganti rugi diberikan, kami segera mengosongkan lahan,” ungkap pria bertopi yang enggan disebutkan namanya di lokasi, kemarin (5/9). Disebutkan, mayoritas warga pindah menempati rumah baru yang masih dalam satu padukuhan.

Padukuhan itu terdampak jalan tol dengan lebar sekitar 80 meter. Mengenai setengah lebih pemukiman warga. Sebagian sudah mulai pindah rumah. Sebagian masih bertahan. “Kalau yang rumahnya sudah jadi, sudah mulai pindah. Hanya sedikit yang pindah ke luar padukuhan,” tambahnya.
Tak sedikit warga menolak dimintai keterangan terkait perpindahan rumah terdampak tol tersebut. Seorang warga mengaku ada kecemasan tersendiri. “Takut salah,” ungkapnya.

Di temui di rumahnya, Plt Dukuh Sanggrahan Heky Prihantoro mengatakan, ada 120 bidang tanah terdampak tol di Padukuhan Sanggrahan. Sebanyak 70 bidang di antaranya berupa obyek bangunan milik warga. Sisanya, fasilitas umum dan lahan pertanian maupun tanah desa (TD). “Ada satu Taman Pendidikan Alquran (TPA), pemakaman juga kena enam meter tapi masuk TD,” katanya.

Dikatakan, warga terdampak tol mayoritas masih bertahan di padukuhan itu. Alasannya, historikal yang panjang. Mempertahankan sejarah warisan tanah leluhur.

Adapun yang saat ini dihadapi warga adalah masalah psikis. Meski uang ganti pembebasan lahan secara nominal melebihi harga tanah. Tanah terkerek naik. Saat ini Rp 2,5 juta per meternya. Adapun harga tanah dinilai timpang. Tanah wilayah strategis dibandingkan tanah wilayah sulit akses, harganya tak terpaut jauh. “Menyebabkan warga dilematis,” kata Heky.

Ia menuturkan, kesadaran warga menggunakan uang ganti rugi mayoritas digunakan sesuai kebutuhan prioritas. Untuk membeli tanah dan membangun rumah. Tidak untuk foya-foya. Sepengetahuannya, hanya ada tiga warga yang membeli mobil. Itu pun mobil pikap bekas.

“Pertama untuk kebutuhan angkut-angkut barang. Kedua, dapat digunakan untuk meniti usaha,” katanya. Sebagaimana dicontohkan untuk menciptakan lapangan pekerjaan baru, menjual sayur keliling.

Heky yang juga menjabat Jogoboyo atau Kasi Pemerintahan Kalurahan Tirtoadi menyebutkan, secara keseluruhan total tanah terdampak di se-kalurahan ini ada 344 bidang. Sebanyak 270 bidang di antaranya murni milik warga. Adapun untuk terdampak tol, total ada 600 bidang.

Pj Lurah atau Carik Kalurahan Tirtoadi Ridwan menambahkan, warga yang terdampak jalan tol mayoritas berkecimpung di bidang pertanian. Terkait profesi ke depan bagaimana, belum ada pendampingan spesifik. Dia menilai, jalan tol akan berdampak pada warga, secara otomatis tipikal masyarakat akan bermutasi.

“Dulu petani dimungkinkan lebih mengembangkan usahanya. Tapi yang lebih meresahkan nantinya kalau sudah banyak alat berat pembangunan. Pasti akan lebih berdampak pada bangunan warga di bawah jalan tol. Apalagi bangunannya tua,” tambahnya. (mel/laz)

Jogja Raya