RADAR JOGJA – Ada kemungkinan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) di DIJ turun level dari 4 ke 3 pekan depan. Ini merujuk catatan Kementerian Kesehatan (Kemenkes) seperti disampaikan Juru Bicara Vaksinasi Covid-19 dr Siti Nadia Tarmizi saat konferensi pers Rabu (1/9) lalu.

Menanggapi hal itu, Sekretaris Daerah (Sekda) DIJ Kadarmanta Baskara Aji menuturkan, prediksi itu muncul lantaran grafik penambahan kasus terkonfirmasi Covid-19 di Jogjakarta telah membaik dari hari ke hari. Begitu juga dengan indikator penerapan kinerja penanganan Covid-19 di wilayah ini.

“DIJ menjadi satu di antara provinsi yang penurunan kasus dan indikator levelnya membaik,” ujar Aji saat ditemui di kantornya, kemarin (2/9). Berdasarkan indikator kinerja penanganan yang tertuang dalam Keenkes No 4805/2021, angka konfirmasi per 100 ribu penduduk DIJ pada 30 Agustus lalu berada di angka 111 kasus.

Hasil itu telah masuk dalam kriteria PPKM Level 3 yakni antara 50-150 kasus. Begitu pula dengan tingkat keparahan penyakit di masyarakat yang indikatornya jenis pasien yang menjalani rawat inap per 100 ribu penduduk.

Nilai DIJ adalah 20,14 pada 30 Agustus 2021 lalu. Sedangkan kriteria PPKM Level 3 kurang dari 30 pasien per 100 ribu penduduk. Untuk tingkat keterisian tempat tidur di RS rujukan Covid-19 pun juga tergolong baik, berkutat di angka 30 persen. “Mudah-mudahan Jumat, Sabtu, dan Minggu kita tidak ada peningkatan signifikan sehingga bisa turun ke level 3,” bebernya.

Yang masih menjadi pekerjaan rumah (PR) bagi DIJ adalah tingginya positivity rate (tingkat positif) dan angka kematian. Positivity rate menunjukkan tingkat endemisitas dilihat dari kasus konfirmasi per jumlah orang diperiksa. Untuk DIJ rata-rata masih berada di atas angka 15 persen.

Sedangkan angka kematian juga digolongkan tinggi, di atas 5 per 100 ribu penduduk. Masih tingginya angka kematian ini, menurut Aji, disebabkan karena banyak pasien Covid-19 yang datang ke RS saat kondisinya tergolong parah. Sehingga nyawanya tidak bisa tertolong.

Aji meminta kepada masyarakat untuk tak ragu memeriksakan ke fasilitas layanan kesehatan seperti RS jika bergejala Covid-19. Apalagi tingkat keterisian tempat tidur di DIJ telah menurun signifikan.

“Kalau saturasi turun, tidak usah ragu ke rumah sakit. Lagi pula semua RS sekarang bisa menerima, karena BOR sudah kecil,” tambahnya.
Dikatakan, terkait pelonggaran dalam PPKM Level 3 tidak jauh berbeda dari PPKM level 4. Pelonggaran yang diberlakukan hanya terjadi di sektor pendidikan.

Di mana sekolah-sekolah diizinkan menggelar sekolah tatap muka. Sedangkan untuk destinasi wisata masih dilakukan penutupan. “Seperti di Jakarta yang menerapkan PPKM Level 3, sektor pariwisata masih belum dibuka, tapi sekolahnya sudah mulai,” jelasnya. (kur/laz)

AN SMA dan SMK Digelar Akhir September

Saat ini DIJ masih ada di PPKM Level 4. Hal itu membuat banyak kegiatan yang melibatkan orang banyak, belum bisa dilakukan. Salah satunya adalah pembelajaran tatap muka (PTM) di sekolah.
Kendati demikian, dalam PPKM Level 4 ini sebagian guru tetap harus datang ke sekolah. Salah satu yang harus dilakukan para guru adalah melakukan persiapan Asesmen Nasional (AN).

Kepala Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga DIJ, Didik Wardaya menjelaskan, hal itu sesuai instruksi Kementerian Dalam Negeri yang kemudian dituangkan ke dalam Insruksi gubernur DIJ. Di DIJ rencananya digelar akhir bulan ini. “AN yang SMA dan SMK akan dilaksanakan akhir September,” jelasnya.

AN sendiri merupakan progam evaluasi pendidikan terbaru dari Kemendikbudristek pimpinan Nadiem Makarim. Dijelaskan Didik, nantinya para peserta AN dari masing-masing SMA dan SMK hanya 45 siswa. Dengan 5 siswa jadi cadangan. “Siswanya yang menunjuk panitia dari pusat,” katanya.
Disinggung kapan kira-kira PTM bisa dilaksanakan di DIJ, Didik menyatakan itu tergantung kondisi PPKM di provinsi ini. DIJ bakal menggelar uji coba PTM jika PPKM di DIJ turun dari level 4 menjadi level 3.

Nantinya, pelaksanan uji coba PT diprioritaskan di 10 sekolah jenjang SMA/SMK yang dulu sempat menggelar uji coba pada pertengahan 2021 lalu. Kala itu, upaya uji coba terpaksa dihentikan karena kasus Covid-19 mengalami lonjakan.

“Kalau nanti sudah diperkenankan uji coba, mudah-mudahan minggu depan sudah turun level, kita akan melakukan uji coba dulu. Terutama di sekolah yang dulu pernah uji coba ditambah sekolah yang sudah siap,” tandas Didik.
Untuk sekolah yang bakal menggelar uji coba, seluruh guru, tenaga kependidikan (tendik), hingga murid wajib tervaksin Covid-19 minimal dosis pertama.

Saat ini pihaknya tengah fokus untuk menuntaskan vaksinasi di kalangan pelajar usia 12-18 tahun. Pelaksanannya dilakukan dengan menelusuri sekolah-sekolah yang ada. Sementara ini cakupan vaksinasi kalangan pelajar baru berkisar 26 persen. (kur/laz)

Jogja Raya