RADAR JOGJA – Budaya populer dari Korea Selatan secara pesat menyebar ke berbagai penjuru dunia dalam beberapa dekade terakhir. Indonesia menjadi salah satu tujuan penyebaran budaya dari Negeri Ginseng itu.

Budaya pop yang beredar bukan hanya musik, film, atau serial drama saja, tapi juga fashion dan makanan. Belakangan kita semakin sering menemui makanan khas dari Korea Selatan di Jogjakarta.

Makanan itu tidak hanya dijual di restoran atau kafe berkelas, melainkan juga di pinggir-pinggir jalan. Kurang lebih kelasnya sama dengan makanan khas Tanah Air yang biasa dijual para pedagang kaki lima (PKL).

Ada banyak makanan Korea yang populer di Indonesia. Mulai dari Teokbokki, Odeng, Gimbab, Topokki, Ramyeon, Jajangmyeon, dan banyak lagi yang lain.
Kebanyakan penikmat makanan Korea adalah anak-anak muda. Gadis Rafidha misalnya, dulu sebelum pandemi Covid-19 ia kerap jajan makanan khas Korea di acara Sunday Morning (Sunmor). “Seneng kalau di sana. Selain harganya murah, kita juga bisa ngerasain langsung vibes seperti di street food Korea gitu,” katanya kepada Radar Jogja.

Penyiar radio dan food vlogger itu mengaku punya beberapa makanan Korea favorit. Seperti Jajangmyeon, dan Topokki. “Tapi kalau Topokki sukanya yang gak terlalu pedas,” lanjutnya.

Lale Rizka Ananda juga punya cerita menarik soal perkenalannya dengan makanan Korea. Menurut dia, itu sudah diawali sejak duduk di bangku SMP tahun 2007.

Awalnya, Nanda –panggilan akrabnya– menyukai dan mengikuti budaya pop Korea seperti film, musik, dan juga acara-acara televisi yang lain. Nah, di setiap film atau acara televisi itu, biasanya ada adegan yang menggunakan makanan khas Korea.

“Kali pertama nyoba, rasanya bisa cocok sih di lidahku. Bisa aku bilang masuk ke seleraku. Makanya sampai sekarang aku masih suka makan makanan Korea,” ungkapnya.

Wanita berusia 26 tahun ini juga mengaku pernah beberapa kali mencoba jajan makanan Korea di PKL. Namun harus diakui, menurut Nanda, rasanya lumayan jauh dengan ada yang di restoran, terutama restoran yang asli Korea.

Menurut Nanda, bisa jadi itu dipengaruhi oleh penggunaan bahan baku makanan yang bukan asli berasal dari Korea. Juga sudah ada penyesuaian rasa dengan lidah orang Indonesia.

“Dari segi rasa juga mungkin sudah banyak menyesuaikan dengan lidah orang Indonesia. Jadi rasanya kaya nggak ada something new or different. Tapi soal harga memang murah,” tandasnya. (kur/laz)

Jogja Raya