RADAR JOGJA РMenteri Koperasi dan Usaha Kecil Menengah (Menkop UKM), Teten Masduki menyempatkan diri jalan-jalan ke Malioboro disela-sela  kunjungan kerja di Jogjakarta.

Dia sempat berhenti di salah satu lapak pedagang kaki lima (PKL) di dekat Kantor Gubernur DIJ. Aksi ini juga dalam rangka menjaring keluhan yang para PKL.

Setelah memesan es buah dan es dawet, Teten lantas berbincang dengan sejumlah pedagang. Mulai dari omset harian hingga bantuan dari pemerintah. Terutama pasca penerapan kebijakan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM).

“Saya sudah ngobrol sama pedagang disini emang omzet turun cukup besar karena mereka hanya bisa 30 sampai 40 persen. Saya kira masih cukup lumayan untuk menghidupi keluarga,” jelas Teten Masduki ditemui di kawasan Malioboro, Jumat (27/8).

Para pedagang juga mengeluhkan modal usaha yang habis. Tabungan habis selama kebijakan PPKM berlangsung. Ini karena uang alokasi modal justru terpakai untuk biaya hidup.

Teten menampung semua keluhan para pedagang. Dia juga mendorong agar kebijakan pemerintah daerah lebih efektif. Terutama bantuan permodalan bagi pelaku UMKM. Setidaknya dengan mempermudah akses bantuan permodalan dari koperasi atau pendampingan lainnya.

“Modal turun karena terkonsumsi keluarga. Ya keluhannya turun omzet 60 sampai 70 persen. Ini terkait PPKM, apalagi Jogja masih Level 4. Terpenting masih bisa survive pemerintah sudah banyak program seperti relaksasi pinjaman,” kata Menteri Koperasi dan Usaha Kecil Menengah (Menkop UKM), Teten Masduki.

Kepala Dinas Koperasi, Usaha Kecil Menengah DIJ, Srie Nurkyatsiwi memastikan bantuan terhadap UMKM terus mengalir. Terbaru adalah Kita Jaga Usaha dari BAZNAS Indonesia. Total ada 600 PKL yang mendapatkan bantuan modal Rp 1 juta per orang.

Dia membenarkan banyaknya pelaku usaha gulung tikar. Pasca PPKM, tabungan modal justru terpakai untuk kehidupan sehari-hari. Alhasil modal usaha habis dan roda perekonomian terpaksa berhenti.

“Kalau di Jogjakarta ini ada 600 PKL yang dapat bantuan dari BAZNAS. Simpanan habis untuk konsumsi yang harusnya untuk usaha. Ini disuntik bantuan agar bisa memutar roda perekonomian,” ujar Srie Nurkyatsiwi.

Dari total 600 bantuan, 200 bantuan diterima PKL Malioboro. Masing-masing pedagang mendapatkan suntikan modal sebesar Rp 1 juta. Penyalurannya langsung ke pedagang melalui buku tabungan.

Ketua 2 Paguyuban Kuliner Malioboro, Sogi Wartono menuturkan belum semua pedagang beroperasi. Penyebabnya adalah tidak adanya modal untuk membuka usaha kembali. Sehingga adanya bantuan dari BAZNAS sangat membantu.

“Ada 200 pedagang insyaallah dapat semua. Bantuannya benar-benar tepat sasaran kalau punya buku tabungan jelas tinggal ambil di ATM-nya. Ini untuk modal banyak yang belum bisa jualan,” katanya.(dwi/sky)

Jogja Raya