RADAR JOGJA – Setelah warga Kota Jogja, para pelajar juga menjadi sasaran prioritas untuk percepatan vaksinasi. Pemkot menargetkan setidaknya 70 persen pelajar tervaksin untuk mempersiapkan menuju pembelajaran tatap muka (PTM).

Wali Kota Jogja Haryadi Suyuti (HS) mengatakan, sejauh ini capaian vaksinasi pelajar masih terbilang kecil atau baru 20 persen yang tervaksin. Jumlah itu adalah pelajar yang bersekolah di Kota Jogja, tidak memandang warga kota atau luar kota.

“Kami masih mengejar lagi 50 persen untuk mencapai 70 persen. Maka kami bersama Kodim, BIN, dan Polresta keroyok bareng-bareng sekolah,” katanya di sela meninjau vaksinasi pelajar di sentra Kantor PDAM Tirtamarta Jogja, kemarin (24/8).

Ketua Satgas Penanganan Covid-19 Kota Jogja ini menjelaskan, dari aspek kesiapan sekolah untuk menggelar PTM, secara teknis tidak ada kendala. Dari aspek kesiapan penerapan protokol kesehatan (prokes) maupun mekanisme standar operasional prosedur (SOP) di masing-masing sekolah yang diampunya, sudah disiapkan jauh-jauh hari.

Hanya jaminan vaksinasi ini yang perlu digenjot. “Target kami kalau akhir September sudah 70 persen, kami sudah menyiapkan PTM bulan Oktober. Tentu atas izin Pemprov DIJ dan dari pusat mengenai mekanisme. Tapi secara teknis kami sudah siap,” ujarnya.

Ia mengakui sudah banyak sekali masukan dari para orang tua wali siswa yang merindukan putra putrinya belajar tatap muka. “Termasuk anak-anak sendiri, sudah lama mereka belajar online,” tambahnya.

Menurut HS, kendati selama sekolah daring materi pembelajaran sudah dipahami peserta didik, proses dalam pembelajaran yang disampaikan tidak hanya materi akademik saja. Melainkan perlu sosialisasi bertemu dengan sesama rekan, guru, dan yang lainnya untuk membentuk karakter siswa.

“Sosialisasi ini penting, tapi kalau dalam situasi ini tidak mungkin, aspek kesehatan kita utamakan dulu. Karena mereka belum tervaksin semua,” jelasnya.

HS menyebut, beberapa kesiapan sekolah sejauh ini dari sisi sarana pendukung seperti alat pengukur suhu, tempat cuci tangan, dan alur keluar masuk siswa, telah terfasilitasi dengan baik. Sampai pada skema pembelajaran yang disesuaikan dengan nomor induk ganjil dan genap.

Ini untuk mengatur agar ada jaga jarak. Di samping itu harus ada pembatasan dan keterisian bangku 50 persen. Dari satu meja yang semula bisa dua siswa menjadi hanya satu siswa. “Nomor induk genap misalnya hari Senin, Rabu, Jumat. Nomor induk ganjil hari Selasa, Kamis, Sabtu. Kalau dulu Sabtu itu libur, besok bisa jadi masuk,” terangnya.

Demikian pula mengejar target itu, saat ini tengah disiapkan rencana vaksinasi massal seluruh pelajar se-DIJ dengan total cakupan 30 ribu di JEC. Saat ini sedang disiapkan tenaga medis yang bertugas agar tidak mengganggu jadwal vaksinasi reguler yang sudah digulirkan. “Kita sedang rencanakan bikin rekor MURI di JEC untuk pelajar. Kalau untuk ketersediaan vaksinnya, tidak ada kendala,” tandasnya.

Sekretaris Percepatan Vaksinasi Ignatius Tri Hastono menambahkan, sampai saat ini pelajar kota yang sudah tervaksin 10.472 orang atau 20 persen dari populasi pelajar secara keseluruhan 57.141 siswa baik SMP, SMK, dan madrasah. “Kami belum report data pelajar yang berada dari luar kota yang mungkin sudah ikut vaksinasi di tempatnya masing-masing,” katanya.

Sementara penyelenggaraan untuk percepatan vaksinasi bagi pelajar dilayani di tiga sentra yakni XT Square, PDAM Tirtamarta, dan SMAN 7 Jogja yang baru rencana. Ini juga sejalan dengan percepatan vaksinasi sasaran pelajar SMA yang sampai saat ini juga berjalan di beberapa sekolah.

“Ini berbarengan. Kalau kemarin kali pertama adik-adik SMP, senyampang dengan dilaksanakan percepatan yang SMA juga dijalankan,” jelasnya yang menyebut dosis vaksin untuk pelajar ini dari TNI, sementara vaksinatornya kolaborasi dari Dinkes dan perwira siswa kesehatan TNI.

Kelik, sapaannya, menyebut pelaksanaan vaksinasi di wilayah Kota Jogja dengan target 5-6 ribu dosis vaksin per hari. Di antara kecepatan vaksinasi per hari khusus bagi para pelajar ini diprediksi mencapai minimal 3.600 siswa. Dengan asumsi per hari rata-rata 1.200 dosis yang disuntikkan di sentra-sentra yang digulirkan pemkot.

Sementara vaksinasi yang digelar di beberapa sekolahan, sasarannya bervariasi antara 800-1.000 siswa per hari. “Berbarengan dengan ini juga ada vaksinasi dosis kedua untuk siswa SMP. Besok di sini vaksinasi dosis dua,” tambahnya.

Peserta vaksin Firayu Raisya Giamara mengaku sudah rindu akan pembelajaran tatap muka. Selain ingin sekali bertemu teman-teman, guru, juga kesulitan memahami materi pelajaran yang disampaikan secara online.

Keinginannya untuk cepat divaksin sudah sejak sebulan lalu, namun perempuan 14 tahun ini kesulitan mencari layanan vaksin bagi pelajar khususnya.

Adapun layanan itu tetapi stoknya terbatas atau habis. “Dapat info undangan dari sekolah diarahkan ke sini, alhamdulillah dimudahkan. Pengen cepet masuk sekolah,” kata Gia, sapaan siswa kelas IX MTsN 1 Jogja ini. (wia/laz)

Jogja Raya