RADAR JOGJA – Perusahaan yang memiliki orientasi ekspor dan domestik, akan diujicobakan beroperasi 100 persen work form office (WFO).Di DIJ sendiri terdapat enam perusahaan yang diizinkan menggelar uji coba penerapan kebijakan tersebut.

Hal ini sesuai dengan keputusan Direktur Jenderal Ketahanan, Perwilayahan, dan Akses Industri Internasional Kementerian Perindustrian No. 8/368/KPAII/VIII/2021. Sekprov DIJ Kadarmanta Baskara Aji merinci, enam perusahaan tersebut tersebar di Sleman sebanyak lima perusahaan dan satu perusahaan di Kulonprogo.Dengan beroperasinya sejumlah perusahaan tersebut otomatis ada sekitar 6.000 pekerja yang kini dapat bekerja secara penuh.

“Karena perusahaan itu dari sisi produksi diperlukan untuk ekspor dan domestik. Misalnya ada pabrik wig, pabrik pakaian, dan produk kulit,” jelas Aji, Minggu (22/8).

Aji menjelaskan selama ini perusahaan yang beroperasi selama PPKM wajib memiliki Izin Operasional dan Mobilitas Industri (IOMKI). Perusahaan industri dan kawasan industri dapat terus beroperasi dengan tetap wajib mematuhi ketentuan penerapan protokol kesehatan yang ketat sebagai prasyarat.

Di DIJ, tercatat ada 180 perusahaan yang telah mengantongi IOMKI. Jumlah tersebut terdiri dari 69 perusahaan kritikal dan 111 perusahaan esensial. Sebelumnya, ada IOMKI yang dicabut berjumlah 41 dengan rincian 16 perusahaan kritikal dan 25 perusahaan esensial. “Alasan pencabutan IOMKI itu kurang tertibnya perusahaan dalam menyampaikan laporan pelaksanaan operasional dan mobilitas kegiatan industri pada masa atau periode pelaporan,” terangnya.

Kriteria perusahaan yang dipilih untuk menggelar uji coba penerapan WFO 100 persen adalah perusahaan yang telah memenuhi segala persyaratan yang ditetapkan Kementerian Perindustrian. “Perusahaan atau industri yang ditunjuk sebagai pilot project itu yang ada kegiatan ekspornya dan sesuai persyaratan Kementerian (Perindustrian),” imbuhnya.

Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi DIJ Aria Nugrahadi mengungkapkan, uji coba akan dilaksanakan hari ini (23/8). “Ada hal-hal yang instrumennya berkaitan dengan penerapan (skrining) melalui aplikasi Peduli Lindungi dan penerapan prokes di lingkungan industri. Kami lebih di pengawasannya nanti,” terang Aria.

Selain itu, tenaga kerja yang dapat masuk di lingkungan atau kawasan industri adalah pekerja yang telah di vaksin minimal dosis pertama dan pekerja dengan rentan usia antara 15 hingga 64 tahun. “Pekerja yang beraktivitas dipastikan dalam keadaan sehat, tidak konfirmasi positif, dan tidak melakukan kontak erat dengan pasien Covid-19,” tandasnya. (kur/pra)

Jogja Raya