RADAR JOGJA – Raung dan tawa bersahutan. Demikian sepintas sibuknya pelaksanaan vaksinasi difabel di SLB Marsudi Putra I, Manding, Trirenggo, Bantul.

SITI FATIMAH, Bantul, Radar Jogja

Di depan gerbang masuk SLB, seorang perempuan berjilbab mengeluarkan kursi roda dari mobilnya. Kemudian mendekatkan kursi itu ke pintu mobil sebelum menuntun seseorang duduk di atasnya. Pada sudut berbeda, seorang kakek tampak menuntun seorang gadis untuk mencuci tangan dengan sabun.

Sementara petugas berbaju kuning yang berjaga di gerbang, sibuk mengecek formulir sebelum mempersilakan antrean untuk masuk. Memasuki kawasan SLB terdengar pekik takut beberapa anak. Sebagian lain tertawa dan berlompatan riang. Ada pula yang hanya terkulai di atas kursi roda. Beberapa duduk diam dan tenang, memasang muka datar menunggu giliran.
Seorang gadis yang baru masuk ke ruang injeksi, menyita perhatian.

Mengenakan jilbab berwarna hitam dia membopong seorang remaja dalam dekapannya. Kemudian mendudukkan remaja berbatik hijau itu pada kursi antrean injeksi vaksinasi Covid-19 secara perlahan. Gadis itu bernama Sherly.

Sementara di depan Sherly, seorang remaja berbaju biru meronta-ronta. Remaja itu menyilangkan jari tengah dan telunjuk pada tangan kirinya. Dia berkeras menolak duduk tenang untuk menerima vaksin. Seorang pria berbaju kuning yang merupakan seorang petugas, kemudian mendekat. Pria itu mendekap sang remaja agar bertahan pada posisi aman. Memudahkan vaksinator menyuntikkan vaksin.

Melihat itu, Sherly refleks menutup mata David, remaja yang tadi dibopongnya. Memastikan adik kandungnya itu tidak menyaksikan momen yang dia nilai dapat membuat takut.

Sesaat kemudian vaksinator yang menyuntik remaja berbaju biru berteriak riang, “Sudaahh.” Teriakan itu disambut tepuk tangan dan tawa. Remaja yang tadi berontak ketakutan itu, sedikit terisak namun sudah tenang. Dia bahkan menyambut high-five yang diajukan beberapa petugas.

Kini giliran David. Sherly yang masih tampak kelelahan ditangkap oleh vaksinator. Akhirnya, sang vaksinator yang berjalan mendekati David. Cukup tenang, remaja 14 tahun itu pun menerima vaksin jenis Sinovac dosis pertamanya.

Usai itu, Sherly kembali membopong David dalam pelukannya. Mahasiswi Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) ini beranjak menuju tempat observasi. “Saya berangkat ke sini naik motor. Terus ini (menunjuk temannya, Red) di belakang pegang David biar nggak jatuh,” ujarnya masih tersengal-sengal kelelahan.

Sherly mengaku cukup repot untuk membawa adik kandungnya ke SLB Marsudi Putra I. Tapi dia bahagia, kini adiknya yang mengalami masalah tulang belakang, telah mendapat vaksin. “Sebenarnya agak ribet, ke sininya rempong. Tapi alhamdulillah sudah dapat vaksin,” ucapnya.

David sendiri masih agak kepayahan mengatur diri agar nyaman duduk di kursi. Senyumnya tertutup masker. Tapi dengan ceria dia berujar, “Ora wedi, nggak deg-degan. Seneng sudah divaksin,” sebutnya.

Kepala Seksi Penyakit Tidak Menular Dinas Kesehatan (Kasi PTM Dinkes) Bantul Hadi Pranoto menjabarkan, vaksinasi kali ini diikuti 335 siswa SLB di Bantul. Secara rinci terdapat 200-an siswa berusia 17 tahun ke bawah yang diberi vaksin Sinovac.

Sementara siswa dengan usia di atas 18 tahun diberi vaksin Sinopharm. Mereka berjumlah 123 orang. Mereka terdiri atas 12 SLB swasta di Bumi Projotamansari. “Pagi ini kita bisa melihat antusias siswa,” ucapnya dengan raut bahagia.

Proses vaksinasi pun dinilai oleh Hadi lancar. Berkat bantuan pendamping siswa dan guru SLB. Berikut penjadwalan dan teknis komunikasi penanganan juga dirasa sangat baik. “Saya lihat ini kolaborasi antara sekolah, guru, dan pendamping. Sehingga kami, petugas pelaksana vaksinasi, sangat terbantu,” pujinya terharu.

Hadir dalam vaksinasi ini, Kepala Bidang Pendidikan Khusus Disdikpora DIJ Bakhtiar Nurhidayat. Dia menilai, vaksinasi di SLB lebih baik bagi siswanya. Lantaran anak berkebutuhan khusus (ABK) cenderung takut ke puskesmas.
Selain itu, vaksinasi di SLB juga membuat pendamping ABK lebih nyaman. “Sebenarnya keinginan kami juga memvaksin pendampingnya. Tapi ketersediaan vaksin dan tenaga kesehatan terbatas. Jadi, kami berikan kepada siswa difabel dulu,” tandasnya. (laz)

Jogja Raya