RADAR JOGJA – Sejumlah poin dalam perpanjangan kebijakan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Level 4 mengalami perubahan. Terutama untuk aktivitas perekonomian masyarakat. Seperti kapasitas dan durasi makan di restoran atau tempat kuliner.

Sekprov Pemprov DIJ Kadarmanta Baskara Aji menuturkan, perubahan mengacu pada Instruksi Mendagri. Beberapa untuk pelaku usaha adalah peningkatan kapasitas kunjungan menjadi 50 persen. Lalu untuk santap kuliner bertambah dari 20 menit menjadi 30 menit.

“Kami ikut perpanjangan (PPKM) sesuai instruksi Mendagri, perpanjang sampai 23 Agustus. Tapi ada sejumlah perubahan-perubahan. (Kapasitas) restoran ditambah dari 25 persen jadi 50 persen. Itu satu meja maksimal 2 orang,” jelasnya ditemui di Kompleks Kantor Kepatihan Pemprov DIJ, Selasa sore (17/8).

Kebijakan ini juga berlaku untuk pedagang kaki lima (PKL) termasuk kawasan Malioboro. Hanya saja Aji meminta tetap ada pengawasan. Terutama untuk menerapkan secara disiplin protokol kesehatan.

Mantan Kepala Disdikpora DIJ ini mengingatkan bahwa status PPKM di Jogjakarta masih Level 4. Sehingga pembatasan aktivitas masih berlaku ketat. Terlebih Jogjakarta masuk lima besar kasus Covid-19 aktif tertinggi di Indonesia. “Ada pelonggaran tapi prokesnya tetap dipatuhi. Jangan sampai kasus yang sekarang didominasi tracing keluarga malah berpindah ke klaster wisata dan pedagang,” pesannya.

Sejumlah kebijakan pembatasan aktivitas masih berlaku tegas. Seperti penutupan sementara objek wisata. Termasuk penutupan sejumlah akses jalan di wilayah Jogjakarta.

Walau begitu ada sejumlah catatan dari Gubernur DIJ Hamengku Buwono X. Berupa penerapan sistem buka tutup dalam penyekatan jalan. Tujuannya agar ekonomi masyarakat tetap bisa bergeliat meski terjadi pembatasan aktivitas.

“Penyekatan jalan tetap dilakukan karena masih level 4. Tapi seperti disampaikan bapak gubernur (HB X) penyekatan jalan jangan ditempat yang tetap, supaya bisa dilewati atau bisa satu arah. Ya untuk kegiatan ekonomi,” katanya.

Berdasarkan evaluasi, penerapan PPKM di Jogjakarta terbilang efektif. Klaim ini ditunjukan dengan penurunan angka kasus aktif harian dan kematian pasien Covid-19. Sementara untuk angka kesembuhan terus bertambah. Adapula penurunan jumlah pasien di isolasi terpusat maupun rumah sakit.

“PPKM cukup bagus, dari kematian yang turun dan kesembuhan meningkat. Konfirmasi posituf turun, sempat di angka 3.000 sekarang rata-rata 1.000 perhari. Lalu BOR (bed occupancy rate) juga turun di 50 persen,” ujarnya.
Meski begitu, Pemprov DIJ tetap melanjutkan program penambahan isolasi terpusat. Langkah ini sebagai antisipasi jika terjadi lonjakan kasus di kemudian hari. Salah satunya adalah Hotel Mutiara di kawasan Malioboro.

“Sudah banyak yang kosong, tapi tidak boleh kemudian melepaskan tetap antisipasi ketersediaan. Karena isoman di Jogjakarta itu banyak. Penambahan isoter tetap siapkan, jika sewaktu-waktu dibutuhkan langsung siap,” katanya.(dwi/ila)

Jogja Raya