RADAR JOGJA – Umumnya layang-layang diterbangkan ke udara. Tetapi di Jalan Nogomudho, Padukuhan Gowok, Caturtunggal, Depok, layang-layang berbentuk naga disulap menjadi hiasan jalan kampung. Ini untuk menyemarakkan HUT ke-76 RI hari ini (17/8).

MEITIKA CANDRA LANTIVA, Sleman, Radar Jogja

Suasana semarak dan hangat menyelimuti kampung ini. Warga menyambut gembira pelintas jalan yang hendak mengabadikan lokasi jalan perkampungan. Tepatnya di RT 5 RW 2.

Ya, warga kampung ini antusias menyambut hari kemerdekaan dalam situasi pandemi Covid-19. Meski, aktivitas dibatasi. Dengan tetap menjaga protokol kesehatan, tak mengurangi momen kebersamaan warga setempat. Mereka antuasias menghias jalan kampung semeriah mungkin.

Diawali dari RT 4. Berbagai hiasan lampion menghiasi jalan dan teras warga. Ada yang terbuat dari kertas, ada juga yang terbuat dari botol plastik bekas. Memasuki RT 5, disambut layang-layang raksasa berbentuk naga. Panjangnya 150 meter. Dan bertuliskan Nagamudho, nama jalan itu.

“Layang-layang ini buatan sendiri. Diinisiasi oleh tiga pemuda di kampung ini,” ungkap Ginah, 51, warga setempat. Keponakannya yang membuatnya. Mereka adalah Agus Priyanto, 24; Afril Nanda Pangestu, 21, dan Ahmad Arifin 28.
Layang-layang dibuat 2020 lalu. Sudah sering diterbangkan dalam event layang-layang di Jalan Jalur Lintas Selatan (JJLS), Jalan Samas, Pantai Parangtritis dan Parangkusumo, Bantul.

Layang-layang ini sudah terpasang sepekan lalu. Tetapi belum lama ini disempurnakan lagi. “Warga berinisiatif menambahkan lampu, sehingga kalau malam hari layangan naga tetap tampak,” katanya.

Ini kali pertama warga memasang pernak pernik kampung pada momentum kemerdekaan. Di tahun sebelumnya, 2019, warga hanya memasang umbul-umbul biasa. Diwarnai dengan meriahnya perlombaan anak-anak hingga orang dewasa.

Ya, tahun ini berbeda. Dengan penambahan aksen layang-layang ini, jalan kampung menjadi menarik. Diharapkan menjadi energi baru. Tetap semangat meski dalam situasi pandemi.

Warga lainnya, Tanti, 37, menambahkan, sejak dihiasnya kampung banyak orang berkunjung untuk sekadar mengambil gambar. Sukses menyita perhatian pengguna jalan. “Di-upload di media sosial kok jadi viral,” tambahnya senang.
Terpisah, pembuat layang-layang Agus Priyanto, 24, mengaku pemasangan layang-layang di langit jalan perkampungan ini sekadar iseng. Semenjak pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM), kegiatan memainkan layang-layang dihentikan.

“Karena lama menganggur, layang-layang kami pajang saja untuk menghias jalan kampung. Mumpung ini momennya,” kata Agus saat dihubungi di tengah pekerjaannya.

Diceritakan, sejak pemasangan layang-layang naga itu, mengundang perhatian kampung sekitarnya dan tak sedikit yang hendak memesan. Karena pembuatan layang-layang memerlukan waktu tiga bulan, maka permintaan pun dia tolak.
“Kalau sebelumnya ada yang beli hanya kepala naganya. Dibanderol Rp 300 ribu,” katanya. Mereka pun sudah menerima pesanan setahun lalu.

“Belajarnya baru setahun lalu sih lewat Youtube. Kepalanya dibikin pakai fiber, badannya dari plastik dan kertas. Kena hujan nggak masalah,” tambahnya. (laz)

Jogja Raya