RADAR JOGJA – Gunung Merapi mengalami peningkatan aktivitas belakangan ini. Kemarin (16/8) pagi, Merapi dilaporkan dua kali mengeluarkan awan panas. Berdasarkan pengamatan Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG), guguran awan panas terpantau pukul 05.36 dan 05.53.

Melihat perkembangan tersebut, Gubernur DIJ, Hamengku Buwono (HB) X belum mengeluarkan arahan, untuk ngaktifkan kembali barak-barak pengungsian yang ada. Sebabnya jarak luncur material vulkanik masih berada di dalam radius bahaya yang ditetapkan BPPTKG yakni sejauh 5 km dari puncak Merapi. “Belum (mengungsi), nanti BPPTKG ada (rekomendasi). Kami menunggu berita dari sana,” terangnya.

HB X menjelaskan, sejak status Gunung Merapi dinaikkan pada 5 November 2020 lalu dari Level II (Waspada) menjadi Level III (Siaga), perkembangan aktivitas Merapi belum tampak mengancam pemukiman penduduk atau belum melampaui potensi bahaya yang ditetapkan oleh BPPTKG.

Kepala BPPTKG Hanik Humaida menjelaskan, awan panas guguran pertama hari ini memiliki jarak luncur 2 kilometer. “Tercatat di seismogram dengan amplitudo 49mm dan durasi 165 detik,” kata Hanik dalam keterangannya.
Awan panas guguran kedua termonitor lewat seismogram dengan amplitudo 66 mm dan durasi 289 detik. “Tinggi kolom 600 meter dari puncak. Jarak luncur 3.500 meter ke arah barat daya,” urai Hanik.

Selama periode pengamatan 6 jam terakhir, Gunung Merapi terpantau 9 kali mengeluarkan guguran lava pijar ke arah barat daya. Jarak luncur maksimal mencapai 1,5 kilometer.

Masih pada periode yang sama, tercatat aktivitas kegempaan Gunung Merapi antara lain 48 kali gempa guguran; 11 kali fase banyak, 10 kali vulkanik dangkal. Sampai saat ini, BPPTKG masih mempertahankan status gunung tersebut di level III atau siaga.

Masyarakat diimbau selalu waspada terhadap berbagai potensi bahaya saat ini, berupa guguran lava dan awan panas pada sektor tenggara-barat daya sejauh maksimal 3 kilometer ke arah Sungai Woro, dan sejauh 5 kilometer ke arah sungai Gendol, Kuning, Boyong, Bedog, Krasak, Bebeng, dan Putih. (kur/pra)

Jogja Raya