RADAR JOGJA – Seluruh kegiatan kepramukaan di era pandemi mengharuskan menyesuaikan kondisi, polanya mengikuti protokol kesehatan (prokes) yang ada. Salah satunya di SMAN 3 Jogja, eksistensi kegiatan pramuka tetap digelar rutin tetapi secara online atau daring. Implementasinya bisa ditanamkan langsung di masa pandemi ini.

Seorang siswa Dhestina Syarifiah Berliani mengatakan, momentum pandemi memang menjadi tantang besar baginya. Terlebih, sebagai pengurus ambalan, ia harus dituntut kreatif dalam melaksanakan program kerja. Tidak hanya sukses dalam acaranya, namun bagaimana pelaksanaannya bisa sesuai prokes yang ada.

“Pramuka yang bisa diambil dari ambalan itu, kita bisa lebih kreatif bagaimana bisa nyelenggarain acara walaupun pandemi. Tidak hanya keberhasilan di teknis, tapi yang terpenting kebersamaannya agar bisa tetap terlaksana. Apalagi kita lewat online,” katanya siswa kelas 12 ini.

Senada, Thomas Aquino Widaya Putra mengatakan, tantangan paling berat dalam melaksanakan kegiatan di era pandemi yaitu kegiatan kepramukaan yang dibuat. Selain agar sukses, juga bisa diterima teman-temannya dan tanpa meninggalkan nilai-nilai dari kepramukaan itu sendiri.

“Kan kita memberi tugas dalam setiap posnya. Dari tugas ini akan membuat teman-teman di rumah bisa bekerja sama, terserah caranya seperti apa, bisa dengan zoom. Ini kayak memacu teman-teman untuk bekerjasama dengan teman lainnya. Dan di sisi lain, juga mereka bisa saling mengenal satu sama lain, walaupun di masa pandemi,” katanya.

Pembina Pramuka SMAN 3 Jogja Sri Budoyo mengatakan, merespons situasi pandemi dituntut memiliki kreativitas dan inovasi dalam menyampaikan materi pendidikan karakter siswa secara baru. Karena biasanya, kegiatan penanaman nilai-nilai pramuka lebih banyak dilakukan di lapangan. “Intinya kegiatan pengembangan kepribadian,  kemampuan, keterampilan tetap kita jalankan dengan media yang ada,”  katanya kepada Radar Jogja saat ditemui di SMAN 3 Jogja, kemarin (13/8).

Kak Bud, sapaannya, yang juga Sekretaris Kwarda DIJ ini menjelaskan, saat-saat situasi pagebluk korona mengharuskan seluruh siswa berada di rumah. Penanaman pendidikan karakter itu pun juga harus sejalan dengan kondisi yang ada. Maka, kemudian ia mendorong peserta didik untuk memiliki kepedulian terhadap lingkungannya. Terutama, menyangkut upaya-upaya melakukan pencegahan penularan Covid-19.

“Di dalam pramuka kita punya program kader perubahan perilaku. Adik-adik kita ajak juga ke situ. Untuk memotivasi masyarakat menjalankan prokes itu juga menginfornasikan kebijakan-kebijakan pemerintah,” ujarnya.

Peserta didik juga diajak terlibat langsung terjun ke lapangan untuk ikut dalam kegiatan pramuka peduli, yaitu melakukan sosialisasi dan penyemprotan disinfektan. “Jadi peningkatan keterampilan, pengembangan kepribadian tetap kita jalankan agar mereka punya bekal dalam hidup,” tambahnya.

Menariknya, dalam kegiatan pramuka di gugus depan sekolah itu saat ujian perkemahan. Meski situasi pandemi, tetap dilaksanakan dengan dibagi dua pola yaitu luring dan daring. Satu berada di bumi perkemahan, dan satu berada di rumah masing-masing. Meski begitu, mereka tetap terpantau oleh kakak pembina dan orang tua yang berada di rumah. “Mereka tetap mengikuti dan bisa terlibat berkemah di rumahnya sendiri dan mengadakan penjelajahan atau mengenal lingkungan. Itu tetap dijalankan dan berinteraksi, juga ada kerja bersama,” jelasnya.

Bagaimana penjelajahan saat dilakukan di rumah masing-masing? Peserta didik akan diperintahkan harus menelusuri lokasi sekitar rumahnya secara sendiri, sembari berolahraga atau naik sepeda. Menjangkau tempat-tempat yang sudah ditentukan. Misalnya saja, mereka harus melewati gedung kantor pos dan pasar tradisional.

“Dan mereka membuat perjalanannya itu sendiri. Nanti mereka buatkan videonya dan mereka kirim bahwa mereka sudah melakukan itu. Ini sebagai bentuk tanggung jawab,” terangnya.

Selain itu, kegiatan lain dalam ujian ini siswa juga harus mampu menelusuri peta perjalanan secara virtual melalui Google Map yang sudah dibuat pembina. Di setiap pos pemberhentian akan ada perintah tertentu yang harus dikerjakan. Demikian pula kegiatan kesenian mereka harus mengerjakan secara bersama dimedia online tidak bertatap muka. Hasilnya melalui video yang dikirimkan kepada pembina.

Kegiatan api unggun pun dengan pola luring dan daring. “Dari hasil latihan ini mereka bisa mengaktualisasikan di tempatnya masing-masing dan kita bisa tahu karena mereka melaporkan. Antusiasnya, ya cukup bagus apalagi tidak bisa tatap muka, dengan media virtual mereka mampu mengerjakan,” tandasnya.

Pembina lain di SMAN 3 Jogja Dwi Puji Lestari mencontohkan, dalam memberikan materi life skill kelas 10-12, di mana keterampilan hidup tidak sekadar melihat saja pada template tugas. Namun siswa mampu mengaktualisasikan secara benar dalam kehidupan sehari-harinya. Meskipun, era pandemi kegiatan daring sangat efektif bisa menumbuhkan penguatan karakter terutama membantu orang tuanya di rumah.

“Ya mereka memasak, benar-benar membantu mulai dari meraciknya. Membersihkan rumah, memperbaiki alat rumah tangga, mereka bisa dengan melihat video yang mereka kirimkan itu,” tambah Dwi Puji. (wia/laz)

Jogja Raya