RADAR JOGJA – UPT Pengelolaan Kawasan Cagar Budaya Kota Jogja langsung menyusun skenario pengawasan pengunjung pasca ditetapkannya Malioboro sebagai kawasan vaksinasi dan bermasker. Simulasi pengecekan secara acak dilakukan kemarin siang (11/8).

Kepala UPT Pengelolaan Kawasan Cagar Budaya Kota Jogja Ekwanto mengatakan, pengecekan identitas vaksinasi kepada pengunjung langsung dilakukan hari itu juga. Namun sementara masih bersifat simulasi untuk melihat teknis keluar masuk masyarakat.

“Kawasan Malioboro ini kan ikon, jadi harus kami siapkan langkah-langkah. Hari ini akan simulasi dulu bagaimana orang masuk ke Malioboro mulai dari terminal, parkir ABA atau kidul pasar,” katanya.

Ekwanto menjelaskan, pintu masuk Malioboro sebanyak 11 titik. Semua titik akan dijaga oleh petugas. Sebanyak 40 personel dilibatkan untuk pengecekan identitas atau kartu vaksin. Bagi pengunjung tidak dengan bus, akan disampling melalui pintu masuk. Masing-masing pintu masuk pun sudah terdapat petugas yang berjaga dan terpasang informasi bahwa Malioboro kawasan vaksinasi.
“Kalau pengunjung dengan bus, pemeriksaan akan kami mulai sejak dari atas bus. Vaksin akan kami sampling, kalau belum ya kami arahkan ke sini dulu, KAI,” jelasnya.

Adapun skenario yang disiapkan adalah manakala ada rombongan bus pariwisata yang masuk akan dibatasi maksimal tiga jam. Bagi pengunjung hanya dibatasi dua jam. Kenapa berbeda? Ini untuk menganstisipasi pada situasi tertentu jika dijumpai bus masuk secara bersamaan tetapi masih banyak kerumunan di lokasi.

“Jadi kami stop dulu untuk turun dari bus. Kalau bus lebih panjang waktunya, karena penumpang tidak serta merta bisa langsung turun, tapi kami tahan dulu. Senyampang penumpang yang lebih dulu tadi harus selesai masuk untuk menghindari kerumunan,” ujarnya.

Selama dua jam pengunjung akan dipantau melalui aplikasi WhatsApp. Sekitar 10-15 menit sebelum waktunya habis, pengunjung akan dikirim pemberitahuan oleh operator UPT sebagai informasi bahwa waktu berkunjung telah habis.

Maka dipersilakan meninggalkan Malioboro dan melanjutkan perjalanan. “Kalau dia tak kunjung keluar, akan kami notif terus sampai risi,” jelasnya.
Sejauh ini pedagang yang sudah mulai berjualan di kawasan Malioboro cukup banyak. Di antaranya untuk operasional toko sekitar 40 persen dan PKL sudah 50 persen. “Karena bus juga belum boleh masuk. Pemkot akan buat kebijakan dulu, untuk persiapan pasca PPKM, termasuk menunggu hasil simulasi ini,” tambahnya.

Seorang peserta vaksinasi di Stasiun Tugu Denni Risnawati menyambut baik adanya program pencanangan kawasan vaksinasi di Malioboro dan Stasiun Tugu. Dengan begitu, capaian vaksinasi masyarakat akan lebih cepat dan dapat memberikan keamanan serta kenyamanan masing-masing dengan kawasan vaksinasi itu.

“Bagus menurut saya agar lebih cepat juga vaksinasinya. Kita juga tidak terlalu khawatir kalau orang sudah divaksin semua,” kata mahasiswa asal Medan ini.

Keinginan perempuan 20 tahun itu juga sudah lama untuk divaksinasi. Tetapi, saat masih berada di Medan dirinya belum sempat melakukan vaksinasi meski sudah ada niat. Kembali ke Jogja sudah satu bulan ini. Sehingga, dengan adanya sentra vaksin, ia merasa dipermudah mengkses vaksinasi. (wia/laz)

Jogja Raya