RADAR JOGJA – Para pelaku usaha yang tergabung dalam Perkumpulan Pengusaha Malioboro Ahmad Yani (PPMAY) menggelar doa bersama samberi membawa lilin dan bendera merah putih.

Semuanya berjajar di ruas jalan Malioboro. Baik pemilik usaha maupun karyawan membaur jadi satu. Doa berlangsung dalam 5 agama dan 1 kepercayaan.

Isi doa berharap agar pandemi Covid-19 segera berakhir. Selain itu juga ingin roda perekonomian di kawasan Malioboro dan Ahmad Yani berangsur normal.

“Bangsa Indonesia sedang dilanda Covid-19. Kita semua ini mahluk Tuhan artinya mengalami seperti ini, kita akan kembalikan pada Tuhan. Kami meminta kalau Tuhan berkenan dikembalikan seperti dulu lagi,” jelas Ketua PPMAY Sodikin ditemui di kawasan Malioboro, Minggu malam (8/8).

Melalui doa ini, mereka juga berharap pemerintah mengeluarkan kebijakan yang matang. Selain menekan angka penularan Covid-19 juga perekonomian. Sehingga para pelaku usaha tak semakin terpuruk selama pandemi berlangsung.

Beberapa pelaku usaha juga terpaksa menjual asetnya. Mulai dari barang pribadi hingga bangunan rumah dan toko. Tujuannya untuk menutup kerugian dan membayar gaji para karyawan.

“Kami memohon kepada decision maker kalau membuat kebijakan dapat menguntungkan semua pihak. Malioboro menangis ya menangis, banyak toko dijual itupun sudah dijual, banting harga tetap susah. Karyawan kebingungan mau makan darimana,” keluhnya.

Sodikin menceritakan kondisi perekonomian di Malioboro saat ini. Hampir seluruh unit usaha anjlok sejak awal pandemi. Apabila dipaksakan buka, justru membuat biaya operasional membengkak.

Dia mencontohkan unit usaha miliknya. Dua toko miliknya buka pasca pelonggaran kebijakan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Level 4. Hasilnya satu toko tak ada pemasukan, sementara lainnya hanya mendapat Rp 230 ribu selama 3 hari.

“Kalau kondisi Malioboro saat ini ngenes. Bisnis dunia pariwisata pasti menangis. Omset tidak hanya turun tapi terjun bebas. Kalau turun itu dari 10 jadi 9 ini dari 10 jadi 1,” kata Ketua PPMAY Sodikin.

Walau begitu, Sodikin tetap optimis. Para pelaku usaha Malioboro, lanjutnya, akan tetap beraktivitas seperti biasa. Dia percaya rejeki berada di tangan sang pencipta.

“Semangat kemerdekaan di Agustus ini mengajak jangan nglokro, mau menangis enggak ada untungnya. Mumpung 17 Agustus, semoga doa dikabulkan dan covid berlalu.  Mudah-mudahan dengan kemerdekaan kita merdeka secara ekonomi, dari penyakit dan merdeka semuanya,” harapnya.

Para pelaku usaha Malioboro juga berharap agar akses perekonomian dibuka. Mereka tak mengharap adanya uluran tangan. Selama akses ekonomi dibuka maka mereka bisa bernafas.

“PPKM doa kita jelas jangan diperpanjang karena sudah sulit cari makan. Kami setuju kalau prokes karena ini untuk kepentingan semua,” ujar Ketua PPMAY Sodikin. (dwi/sky)

Jogja Raya