RADAR JOGJA – Karya itu bukan sekadar megah. Tapi bagaimana karya hidup dalam batin. Mendekatkan akan rasa syukur terhadap kenikmatan alam semesta. Itulah perjalanan batin dari setiap goresan karya Sidik Martowidjojo dalam pameran tunggalnya bertajuk Sidik Scape di rumahnya, Mrican, Caturtunggal, Depok, Sleman (4/8).

MEITIKA CANDRA LANTIVA, Sleman, Radar Jogja

Sebanyak 18 lukisan dipamerkan di tembok berdinding biru pekat. Sang empunya, tak lain pemilik rumah, Sidik Martowidjojo. Ya, belum lama ini, Sidik menyulap rumahnya menjadi galeri yang dinamai Pit Mabuk Art Venue. Entah apa artinya, ia hanya menyebut ruang ekspresi baginya.

Karya-karya itu dia buat dari tahun berbeda. Mulai 2001 hingga sekarang. Yang terlama memberikan nuansa berbeda. Goresannya lebih lembut, menggunakan cat air dengan teknik melukis China.

Di lukisan itu juga terdapat huruf China. Ia menyebut tulisan itu merupakan luapan rasa syukurnya. “Lukisan ini menggambarkan suasana angin sepoi-sepoi dari pohon cemara di pegunungan dewa di Tiongkok,” ungkap Sidik, 84, sembari menunjukkan karya-karyanya.

Dari lukisan itu, ada beberapa yang paling menarik. Salah satunya lukisan berukuran 2×4 meter. Judulnya Air Terjun Terbang yang digambarkan penuh ekspresif menggunakan cat air pada kertas khusus. Di dalam karya itu dia menggambarkan betapa kayanya alam. Air menjadi sumber kehidupan, maka harus dilestarikan.

Berikutnya dia terangkan satu per satu lukisannya. Dan sampai pada lukisan terakhir. Di ruangan bagian belakang, karya berukuran 1,4 x 6 meter itu juga terpampang. Begitu menantang perpaduan goresan antara yang cerah, pudar, padam, lebur, hingga hitam lekat. “Inilah bentuk emosinya, luapan batin akan keindahan alam cara Pak Sidik,” terang Kuss Indarto, kurator seni yang mengkurasi karya pria kelahiran Malang itu.

Konon, karya ini pernah dipamerkan di Louvre Museum Paris, Prancis, pada 2018. Karya ini sudah tiga kali mendapatkan penghargaan dan sertifikat karya terbaik dua kali pada 2015 dan sekali pada 2018. “Ini judulnya Alam Luas,” tambah Kuss.

Pembukaan pameran nantinya dilakukan secara virtual dibarengi peresmian galeri, 24 September mendatang. Karyanya akan dipamerkan selama tiga bulan. Dapat dikunjungi dengan membuat janji temu, sesuai waktu yang dijadwalkan.

Karya-karya ini nantinya juga akan dijual. Kendati begitu, oleh empunya dibanderol mahal. Kata Sidik, harga karya seni itu relatif. Namun untuk pangsa pasarnya harus mahal. “Di atas Rp 100 juta,” ucap Sidik.

Dijelaskan, karyanya mahal bukan tanpa alasan. Menurutnya, itu sebanding. Karena karya-karyanya merupakan sebuah perjalanan spiritual. Setiap goresannya merupakan hijrah batin dari pada rasa syukurnya terhadap kekayaan alam semesta.

Satu pesannya, menjadi manusia harua bersyukur. Menjaga keseimbangan alam. “Jika kita baik pada alam, maka alam juga baik pada kita,” pesannya.

Sidik merupakan salah satu seniman Jogja keturunan Tionghoa. Nama lengkapnya Sidik Wiryawan Martowidjojo. Dengan sebutan nama China-nya Ma Yong Qiang.

Dia menekuni kiprahnya sebagai seniman lukis di usia 50 tahun. Awal menjajaki dunia seni lukis, Sidik menghadirkan karya lanscape bergaya China. Tetapi seiring berjalannya waktu, goresannya lebih ekspresif. Karya-karya Sidik telah dikoleksi kolektor seni dari berbagai negara. (laz)

Jogja Raya