RADAR JOGJA – Penyekatan sejumlah ruas jalan menuju wilayah Kota Jogja berangsur dibuka seiring perpanjangan PPKM Level 4 hingga 9 Agustus. Ini dilakukan untuk melihat sejauh mana tingkat kedisiplinan mobilitas masyarakat.

Kepala Dinas Perhubungan Kota Jogja Agus Arif Nugroho mengatakan, pembukaan penyekatan beberapa ruas jalan dilakukan sejak Selasa malam (3/8). Hal ini berdasarkan hasil koordinasi dengan lintas Forkopimda.

“Kami berharap muncul kesadaran masyarakat tanpa perlu dilakukan penyekatan jalan. Maka kita coba buka di semua simpang dan pagi ini kita amati situasinya,” kata Agus Rabu (4/8).

Ia menjelaskan terdapat 10 titik yang dibuka sementara yaitu simpang Wirobrajan, Pingit, Jetis, Tugu, Mirota Kampus, Gejayan, Muja-muju, Rejowinangun, Taman Siswa, dan Pojok Beteng (Jokteng) Kulon termasuk Malioboro. Hingga siang kemarin Dishub masih menghitung volume lalu lintas kendaraan setelah jalan itu dibuka. “Sekarang sedang kami hitung, karena melihat kecenderungannya terjadi penambahan antrean di beberapa simpang jalan,” ujarnya.

Menurutnya, tanpa dilakukan penyekatan ternyata mobilitas masyarakat melonjak signifikan. Ini dilihat dari parameter secara fisik yaitu terjadi penambahan antrean kendaraan di simpang Mirota Kampus, Glagahsari, Cendana, Pakualaman, Sentul, dan lain-lain.

Melalui pengamatannya, dimungkinkan Dishub bakal mengkaji ulang agar penyekatan jalan kembali diberlakukan. “Sepertinya memang masih perlu upaya-upaya fisik untuk mengendalikan mobilitas masyarakat. Jadi kemungkinan hari ini tetap melihat eskalasi yang kami amati. Lepas lagi, ya perlu kita rekayasa fisik lagi, karena melepas mobilitas itu berisiko terhadap paparan Covid-19,” jelansya.

Padahal, sejak sejumlah ruas jalan itu dilakukan penutupan untuk mendukung pengendalian laju penularan virus korona. Dan ternyata berdampak positif terhadap penurunan aktivitas non-esensial masyarakat. Terakhir pada 1-2 Agustus lalu tingkat mobilitas cukup rendah, di angka 30 persen. Itu pun hanya tinggal mobilitas atau aktivitas lokal masyarakat.

Dia mengajak masyarakat sama-sama memahami situasi ini. Masyarakat yang tidak berkepentingan bersifat sekunder dan tersier, bisa dikurangi dulu. “Secukupnya aja, kalau sudah cukup ya sudah, belum wantunya nongkrong dan hangout. Di luar itu ya nanti, ngampet dulu,” tandasnya.

Dikatakan, pihaknya tidak berniat mengungkung secara berlebihan. “Tapi ayolah, bersinergi. Kalau terus-menerus abai, mau sampai kapan kondisi pandemi seperti ini,” sambungnya.

Sejatinya upaya penyekatan semacam ini merupakan pilihan berat bagi pemerintah di tingkat daerah. Akan tetapi, kesadaran masyarakat untuk mengurangi mobilitas rupanya belum terbentuk. Ini diperlukan partisipasi masyarakat untuk menekan angka Covid-19.

“Sebenarnya kami berharap dengan kasus Covid-19 yang masih cukup tinggi, ada kesadaran dari masyarakat. Tanpa perlu dilakukan penyekatan jalan,” tambahnya.

Sementara Kapolresta Jogja Kombes Pol Purwadi Wahyu Anggoro mengatakan, pembukaan akses di simpang-simpang yang disekat hanya bersifat temporari untuk mengukur tingkat mobilitas selama PPKM ini. “Utamanya untuk menghitung volume kendaraan dan mobilitas saja. Dibuka tadi malam, dari pukul 20.00 sampai 09.00 pagi. Kemudian pukul 10.00 ditutup lagi, karena hanya untuk penghitungan saja,” katanya.

Pihaknya ingin mencoba melihat upaya dan pengaturan aktivitas serta mobilitas masyarakat yang tepat. “Jadi bukan dibuka secara penuh. Karena harus ada penghitungannya dulu, baru nanti disesuaikan,” tambah perwira polisi dengan tiga melati di pundak ini. (wia/laz)

Jogja Raya