RADAR JOGJA – Perpanjangan kebijakan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) mulai berdampak positif terhadap kasus Covid-19. Di Gunungkidul, dalam beberapa hari terakhir penyebaran virus korona mulai terkendali.

Hal tersebut terlihat dari data laporan harian kasus Covid-19 Kabupaten Gunungkidul dalam sepekan terakhir. Jumlah suspek, maupun konfirmasi mengalami penurunan. Pada 29 Juli 2021 secara komulatif jumlah suspek total 2.398. Kasus konfrimasi 14.005, sembuh 10.813, dalam perawatan 2.465, meninggal 727. Data tersebut terus menurun sampai dengan (2/8).“Jika sebelumnya kasus konfirmasi positif harian pernah mencapai 400 kasus, sekarang per 2 Agustus 2021 menjadi 89 kasus,” kata Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Gunungkidul, Dewi Irawaty saat dihubungi Rabu (3/8).

Dia berharap penurunan grafik tersebut bisa terus membaik. Karena diakui secara umum kasusnya masih fluktuatif. Oleh sebab itu diharapkan kepada seluruh lapisan masyarakat untuk tetap menjaga protokol kesehatan (prokes). “Efek PPKM mulai terasa,” ujarnya.

Disinggung mengenai pelayanan kesehatan, pemkab berusaha memberikan kemampuan terbaik. Saat ini juga sudah ada shelter yang khusus menangani pasien Covid-19 yakni di kawasan Hutan Wanagama, Playen.“Di Kalurahan Petir, Kapanewon Rongkop juga ada shelter untuk isolasi pasien Covid-19,” ungkapnya.

Sementara itu, Wakil Bupati Gunungkidul, Heri Susanto mengimbau masyarakat agar taat prokes. Dia mengingatkan, berapapun hilir dioptimalkan kalau dihulunya tidak teratasi pasti juga akan kualahan. Diakui, dalam penanganan virus korona pemkab mengalami sejumlah kendala.“Kesulitan petugas nakes (tenaga kesehatan). Sudah buka relawan, sudah bersurat ke poltekes DIJ dan pak Gubernur DIJ, tetapi belum terpenuhi,” bebernya.

Di Kulonprogo, Ketua Gugus Tugas Penanganan Covid-19 Kulonprogo Fajar Gegana mengatakan, pada penerapan PPKM Level 4 hingga 2 Agustus 2021 kemarin diakuinya mobilitas masyarakat turun cukup siginifikan. Namun demikian, tren penularan virus tetap cukup tinggi.

Untuk itu, pada perpanjangan PPKM Level 4 kali ini, gugus tugas akan melakukan evaluasi pada beberapa hal. Di antaranya pada optimalisasi kapasitas rumah sakit rujukan umum daerah (RSUD) dan penanganan pasien Covid-19 yang menjalani isolasi mandiri.

“Untuk peningkatan tempat tidur di RSUD tahapan kami baru 23 persen, sementara untuk konversi layanan umum dibuat ruang isolasi telah mencapai 45 persen,” ujar Fajar kepada wartawan, kemarin (3/8).

Kemudian untuk penanganan pasien Covid-19 yang menjalani isolasi mandiri, saat ini gugus tugas bersama pihak terkait tengah mengoptimalkan Rusunawa Giripeni sebagai gedung isolasi terpusat (isoter). Diketahui, gedung lima lantai dengan kapasitas 96 kamat tersebut rencananya akan difungsikan sebagai lokasi penanganan pasien Covid-19 dengan gejala ringan hingga sedang.

Fajar menyebut, pendataan rujukan pasien isoter di rusun tersebut adalah hal yang harus diperhatikan. Sehingga harapannya masyarakat yang bisa masuk ke rusun tersebut adalah pasien yang benar-benar membutuhkan perawatan. Ia juga meminta agar perihal biaya operasional gedung isoter harus diperkirakan dengan baik “Hal itu, agar tidak mengalami kekurangan biaya apabila kasus isoter terus meningkat,” ungkapnya.

Sementara itu, Ketua Satgas Isolasi Terpusat Rusun Giripeni Letkol Inf Yefta Sangkakala mengatakan bahwa kesiapan lokasi isoter untuk saat ini sudah mencapai 80 persen. Kesiapan tersebut sudah mencakup dari aspek sarana prasarana hingga petugas kesehatan.

Untuk pelaksanaan di rusun tersebut, Yefta mengaku pihaknya bakal berkoordinasi dengan instansi terkait. Seperti Dinas Kesehatan, Dinas Sosial, Badan Penanggulangan Bencana Daerah dan Dinas Pekerjaan Umum.”Dari hasil koordinasi, kesiapan Rusun Giripeni sampai saat ini sudah mencapai angka 80 persen,” ujar Yefta yang juga menjabat sebagai Komandan Kodim 0731 Kulonprogo ini. (gun/inu/pra)

Jogja Raya