RADAR JOGJA – Seorang pasien terkonfirmasi Covid-19 yang dirawat di Rumah Sakit Lapangan Khusus Covid-19 (RSLKC), Bambanglipuro, tewas tenggelam. Setelah diduga hendak melarikan diri lewat celah kamar mandi di lantai dua. Namun dia justru terjatuh di kolam milik warga di belakang RSLKC.

Direktur RSLKC Dokter Tarsisius Glory mengungkap, pasien berinisial AR, 41, ini dinyatakan hilang pada Selasa (3/8) pukul 05.15. Menurut laporan Tim RSLKC, pasien berjenis kelamin laki-laki dan dirawat di lantai satu. “Dia dirawat di ruang bawah sebetulnya. Jadi saya mengatakan kepada tim saya untuk disisir, coba dicari ke mana dia,” bebernya saat ditemui di halaman RSLKC, Rabu (3/8).

Penyisiran kemudian dilakukan di sekitar RSLKC. Mengingat pasien tidak membawa kendaraan dan dimungkinkan hanya berjalan kaki. Selain itu, Dokter Glory memerintahkan timnya untuk menghubungi pihak keluarga AR di Wukirsari, Imogiri. “Begitu pasien itu nggak ada, saya suruh nyari. Coba, pulang ke rumah atau tidak,” sebutnya.

Selang beberapa jam, satpam RSLKC mendapat aduan dari warga pukul 07.30. Di mana warga menemukan mayat di dasar kolam miliknya. “Tetangga (warga yang rumahnya bersebelahan dengan RSLKC, Red) yang kebetulan pemilik tempat kejadian perkara (TKP),” paparnya.

Tim RSLKC yang terdiri atas tim rukti jenazah dan petugas lain pun segera meluncur menggunakan alat pelindung diri (APD) lengkap. Guna memastikan mayat yang dilaporkan benar pasien RSLKC. Namun, mayat tidak segera langsung dipindahkan.

“Saya perintahkan saat itu jangan melakukan pergerakan apa pun. Saya akan telepon kepolisian dulu. Supaya nanti bisa membantu mengidentifikasi lokasi dan biar bisa memastikan ini bukan penganiayaan,” ujarnya.

Dokter Glory pun mengkhawatirkan, pemindahan mayat dapat menghilangkan bukti. Bila terdapat dugaan terjadi tindak penganiayaan. Setelah berkoordinasi, kepolisian, lurah Sidomulyo, panewu Bambanglipuro, dan keluarga AR berkumpul pukul 09.00. “Semua menyaksikan proses dan diketahui tidak ada unsur penganiayaan. Murni karena pasien itu lari dari RSLKC,” sebutnya.

Melalui pengecekan CCTV diketahui AR berusaha melarikan diri pada Selasa dini hari sekitar pukul 02.30. Pria yang baru masuk ke RSLKC pada Senin (2/8) malam itu terlihat menaiki tangga lantai dua. Kemudian hilang dari pantauan CCTV ketika memasuki kamar mandi perempuan. “Dia melewati kamar mandi perempuan yang tidak mungkin kami pasangi CCTV,” ungkapnya.

Selanjutnya dimungkinkan karena kadar oksigen di dalam tubuh AR kurang, sehingga pria yang sempat mendapatkan penanganan nebulizer pada Senin malam pukul 22.00 itu terjatuh. Diketahui, saat pemeriksaan saturasi AR 87, di mana keadaan normal seharusnya 97. “Mungkin kurang hati-hati atau licin. Apa yang dia injak meleset, akhirnya masuk ke kolam,” jelasnya.

Terkait alasan kaburnya, Dokter Glory menduga AR mengalami permasalahan psikologis. Sebab, Covid-19 disebutnya tidak pandang bulu dan virusnya mengandung misteri. Lantaran mampu menimbulkan gejala apa pun, termasuk gangguan kejiwaan.

“Selama dirawat di sini, waktu tim observasi, selalu kami tanya, katanya keluhannya pusing dan baik-baik saja. Dia tidak mau terbuka. Padahal di RSLKC ada pendampingan psikologis. Siraman rohani juga selalu ada tiap pagi,” tegasnya.

Panewu Bambanglipuro Lukas Sumanasa mengatakan, pihak keluarga dan penyidik sudah sepakat satu suara. “Pokoknya, karena kabeh podo tidak tahu. Karena masuknya baru malam dari Niten. Memang perlu dirujuk ke sini. Paginya lewat tempat konsultasi (kamar mandi, Red) putri, kepleset,” tandasnya. (fat/laz)

Jogja Raya