RADAR JOGJA – Pemprov DIJ berencana menjadikan Hotel Mutiara, salah satu asetnya di Jalan Malioboro yang dibeli dengan dana keistimewaan (danais), sebagai salah satu tempat isolasi terpusat Covid-19. Namun, hal itu baru dilakukan jika tempat isolasi atau selter yang lain sudah penuh.

Sekretaris Provinsi DIJ Kadarmanta Baskara Aji mengungkapkan, Hotel Mutiara yang terbagi dalam dua bangunan itu bisa menampung 210 bed. Jumlah itu cukup banyak untuk menampung warga terpapar Covid-19 dengan tanpa gejala atau gejala ringan. “Kira-kira yang utara bisa 80 bed, sementara yang selatan sekitar 130,” ujarnya Senin (2/8).

Lebih lanjut Aji menjelaskan, pihaknya masih belum memiliki rencana menjadikan hotel yang dibeli dengan harga Rp 170 miliar itu sebagai rumah sakit darurat Covid-19. Salah satu alasannya, letak Hotel Mutiara yang berada di tengah kota dan ada di salah satu titik keramaian di Jogja.

Namun, pihaknya menyatakan siap saja jika nanti pemerintah pusat menilai Hotel Mutiara bisa dijadikan rumah sakit darurat Covid-19. “Kalau pusat menilai hotel itu memungkinkan (dijadikan RS darurat, Red), ini bisa dibahas lagi. Yang pasti ini kami siapkan untuk isolasi terpusat atau isoter,” jelasnya.

Saat ini tercatat ada 60 selter isolasi yang tersebar di DIJ. Masing-masing ada yang dikelola oleh Pemprov DIJ, pemerintah kabupaten/kota, Polda DIJ, kodim kabupaten/kota, hingga perguruan tinggi, lembaga, dan perhotelan.
Dari total daya tampung 2.901 orang, 1.069 di antaranya telah terisi. Artinya, sisa daya tampung di selter karantina masih tergolong tinggi yakni 1.832 tempat tidur.

Sementara itu, Wakil Ketua DPRD DIJ Huda Tri Yudiana menyetujui langkah Pemprov DIJ yang akan menggunakan Hotel Mutiara sebagai tempat isolasi terpusat Covid-19. Saat ini jumlah selter yang ada di DIJ masih dirasa belum cukup jika melihat data warga yang menjalani isolasi mandiri jumlahnya 30 ribu orang.

“Kami mendukung penambahan rumah sakit darurat atau selter terpusat, agar kondisi warga yang positif ini terpantau. Jangan terjadi lagi ada yang meninggal saat isoman karena tidak terpantau,” kata Huda.

Lebih lanjut dikatakan, bisa dimaklumi jika hotel tersebut untuk sementara tidak digunakan sebagaimana mestinya. Diketahui, hotel itu dibeli dan akan diperuntukkan untuk UMKM. “Ini kondisi darurat, silakan karena lebih penting penanganan terlebih dahulu. Nanti ketika sudah selesai, baru berpikir untuk UMKM. Saat ini terpenting penanganan kasus agar bisa segera terselesaikan,” tegas Huda. (kur/laz)

Jogja Raya