RADAR JOGJA – Yellow Pages, buku kuning besar yang dulu selalu ada di meja warung telepon (wartel). Yellow Pages, buku yang berisi kumpulan direktori telepon terlengkap pada masanya itu, juga dipunyai orang yang punya telepon rumah.

Mantan pengguna Yellow Pages era 90-an pertengahan, Adya Mahardhika mengatakan, buku tebal berisi sekitar seribu halaman itu sangat bermanfaat berada di rumahnya. Digunakan sebagai acuan untuk mencari nomor telepon sanak saudara atau tetangga jauh.

Juga bisa untuk mencari produk atau jasa yang dibutuhkan saat itu. “Memang sangat membantu kalau untuk orang tua dulu ya. Bapak saya sering pakai buku itu untuk nyari nomor telepon,” katanya kepada Radar Jogja (30/7).

Adya, sapaan akrabnya, ternyata menapis bahwa buku dominasi warna kuning itu membantu mencari kontak seseorang. Baginya, yang saat itu masih usia kelas 4-5 SD, ternyata kegunaannya berbeda. Yaitu lebih untuk kebutuhan iseng menjahili teman-temannya.

“Kalau saya beda penggunaannya. Saya dulu buat usil cari nama bapak teman saya pas SD. Dulu zaman kecil suka ngece teman, manggil pakai nama bapaknya gitu,” ujar seorang staf Bidang Informasi dan Komunikasi Publik, Dinas Komunikasi Informatika dan Persandikan Kota Jogja ini.

Kejahilan yang dilakukan bersama teman-temannya era lampau itu selalu memanggil nama orang tua atau bapaknya masing-masing. Karena laki-laki 37 tahun itu tidak mengetahui nama masing-masing bapak dari temannya yang selalu jahil dengannya. Maka, ia mencari nama orang tua dari temannya itu lewat Yellow Pages.

“Kita metani dari buku itu, kan udah tahu daerah rumahnya, kita nyari dari situ. Ketemu nama bapaknya dan nomor teleponnya, terus kita ece balik ke teman saya dengan nama bapaknya,” ceritanya, sambil tertawa.

Dikatakan, Yellow Pages yang dipunyainya ada dua bagian. Satu bagian terdapat halaman berwarna putih berisi berbagai nomor telepon orang-orang, nama, dan alamat masing-masing. Setiap nomor telepon itu dibagi per kecamatan hingga kelurahan. Lalu, bagian kedua halaman berwarna kuning berisi macam-macam iklan beserta kontaknya.

Ada iklan jasa gali sumur, info toko kelontong, industri rumahan, toko-toko elektronik, bisnis, maupun klasifikasi usaha lainnya. “Pas halaman iklan kadang juga kepakai, untuk nyari tukang service TV misalnya, karena belum ada google. Waktu itu kan cuma koran dan Yellow Pages itu,” jelasnya.

Yellow Pages didapat setiap tahun yang rutin diantarkan dari pihak Telkom. Isinya selalu beda dan sudah update. Terkadang muncul terus pelanggan atau iklan baru setiap tahunnya. Hingga dirasa mulai bergeser, saat ia memasuki SMP sekitar tahun 90-an akhir atau antara 97-98-an. “Nggak tahu setelah itu diganti apa, karena digital juga belum populer sekali,” tambahnya.

Kenangan terhadap penggunaan Yellow Pages juga ada pada Enggar Kusnaidi. Pria kelahiran 1970-an ini mengaku pernah menggunakan buku kuning itu. Zaman ketika ia muda itu, handphone tidak ada, bahkan telepon rumah hanya orang tertentu yang punya.

Untuk telepon, harus menggunakan telepon umum dulu ketika tidak mempunyai telepon rumah. “Orang tertentu saja yang punya. Lah saya nggak punya, ya harus ke wartel (warung telepon),” ungkapnya.

Enggar pun punya kenangan lucu waktu SMA, yakni ketika ia berusaha telepon pacarnya. Ia terkejut karena yang menerima telepon tetangga pacarnya. Lantas ditutup oleh Enggar, karena sangat malu ketika itu.

“Jadi dulu saya pernah menggunakan Yellow Pages, saya cari sesuai alamatnya. Eh, ketika ditelepon yang angkat malah tetangganya,” ujarnya sambil tersenyum.

Tak hanya sampai di situ, ia juga yang dulu bekerja sebagai pemborong bahan bangunan pada usia 20 tahunan, sempat salah sambung ketika telepon kliennya. Menurutnya, buku itu sedikit mempermudah, namun ketika salah mencari nama alamat, bisa tidak menemukan nomor telepon yang dituju. “Sering salah sambung sih. Jadi agak susah untuk menemukan nomor klien, tak semudah era saat ini,” katanya.

Kemudahan teknologi saat ini yang menggunakan nomor subcriber identity module (SIM) lebih mudah menjangkau ke seluruh tempat. Namun nostalgi lucu terhadap buku itu, tak pernah luntur dengan waktu yang terus berjalan. (wia/mg/laz)

Jogja Raya