RADAR JOGJA – Yellow Pages bagi kalangan milenial mungkin terdengar asing. Tetapi bagi orang yang hidup di masa 1980 hingga 2000-an, pasti mengenalnya. Khususnya bagi mereka yang memiliki telepon rumah. Yellow Pages menjadi benda yang wajib mendampingi telepon.

Yellow Pages merupakan buku telepon. Isinya informasi nomor-nomor telepon. Mulai dari informasi layanan pelaku bisnis usaha, hingga pelayanan umum, lengkap dengan alamatnya. Seperti nomor rumah sakit, instansi atau tempat usaha, pemadam kebakaran dan nomor residensial lainnya.

Yellow Pages ini sudah muncul sejak 1886. Kali pertama dimunculkan oleh Reuben H. Donnelley. Kemudian familiar di Indonesia sejak 1980-an. Hingga kini penggunaannya sudah jarang ditemui.

Dosen Administrasi Publik Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) Dwi Harsono mengatakan, Yellow Pages kerap disebut buku kuning. Buku ini diterbitkan seketika informasi berbasis kertas marak. Awalnya hanya berupa buku dengan kertas buram. Namun karena suatu hal berkaitan dengan percetakan, maka untuk halaman nomor berwarna kuning.

Sejak muncul pertama hingga saat ini, warnanya tetap sama, menggunakan kertas berwarna kuning. ”Bukan hanya menyimpan nomor. Tetapi juga terdapat iklan informasi usaha,” kata Dwi saat dihubungi Radar Jogja (30/7).

Dulu semua orang yang memiliki akses telepon rata-rata memiliki buku ini. Buku itu dikeluarkan oleh Telkom. Awalnya tipis. Memasuki era 1990-an, buku ini halamannya semakin tebal. Ya, karena penggunaan nomor telepon semakin marak. Sementara tidak ada informasi lain selain Yellow Pages ini. Kalaupun akan menyimpan satu per satu nomor-nomor telepon secara manual, terasa sulit. “Dulu di tempat pelayanan umum, di sekolah juga ada,” katanya.

Bagi orang dulu, Yellow Pages menjadi sarana iklan usaha. Melalui nomor telepon bagi yang memiliki usaha sekalian dapat mencantumkan informasi usahanya. Syaratnya, mendaftarkan informasi melalui Telkom.

Namun seiring perkembangan zaman, buku ini menjadi tidak praktis. Perilaku orang bergeser, apalagi setelah sistem informasi dan komunikasi semakin canggih. Kecenderuangan orang berganti menggunakan handphone (HP).

Karena melalui HP lebih simpel menyimpan nomor telepon. Mulai 2000-an ke atas, Yellow Pages mulai ditinggalkan. Hanya instansi-instansi tertentu yang masih memiliki telepon kabel saja yang masih menggunakan.

“Dulu di rumah saya pernah pakai. Beberapa tahun sekali oleh Telkom Yellow Pages di-update. Jadi kalau usahanya kok ganti, ya didaftarkan lagi ke Telkom,” ungkap pria kelahiran 1974 itu. (mel/laz)

Jogja Raya